Senin, 03 Oktober 2011

SPIRITUALITAS AWAN SEBAGAI KOMUNITAS PARA IMAM, NABI DAN RAJA

TRIDUUM  WILAYAH ASISI

HARI KETIGA : SPIRITUALITAS AWAN SEBAGAI KOMUNITAS PARA IMAM, NABI DAN RAJA

BACAAN : MAT 20:20-28
20:20 Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya.
20:21 Kata Yesus: "Apa yang kaukehendaki?" Jawabnya: "Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu."
20:22 Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: "Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?" Kata mereka kepada-Nya: "Kami dapat."
20:23 Yesus berkata kepada mereka: "Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya."
20:24 Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu.
20:25 Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: "Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.
20:26 Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu,
20:27 dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu;
20:28 sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.


A. PENGANTAR : TEMA NABI – IMAM – RAJA?
Pertama-tama harus saya akui bahwa tema yang hendak diangkat oleh Panitia Peringatan Pesta Nama Wilayah St. Fransiskus Asisi ini sangat menarik. Menarik karena tema tentang Panggilan Manusia Kristen sebagai Nabi – Imam dan Raja ini adalah tema klasik yang kerap disentuh namun jujur kerap dilupakan.

Tema ini pasti muncul saat pelajaran agama / katekumen. Karena pada saat seseorang dibaptis, dikatakan, seseorang sekaligus menerima tiga tugas besar selama hidupnya, yaitu menjadi Nabi – Imam dan Raja. Setelah itu, tema ini dilupakan. Mengapa? Karena dirasakan ketiga tema ini sangat teologis, ilmiah, ruwet dan sukar untuk diaplikasikan dalam hidup sehari-hari. Akhirnya orang menjadi acuh. Jadi Nabi? Maksud loh? Aku harus ngajar seperti katekis? Jadi imam? Aku harus gak kawin seperti para pastor? Jadi raja? Boro-boro, jadi bupati aja gak kepikiran!

Tema dihari terakhir ini adalah khususnya spiritualitas awam sebagai RAJA. Namun untuk melihat benang merah tema ini dengan hari-hari sebelumnya, kami ingin secara ringkas merangkum ketiga panggilan tersebut, mulai dari sejarahnya di masa Perjanjian Lama, tiga tugas tersebut pada diri Kristus – pada diri gereja sebagai Tubuh Mistik Kristus – dan akhirnya dalam diri kita sendiri sebagai anggota-anggota gereja. Dengan benang merah ini, kami harapkan kita mampu melihat bahwa ketiga tugas tersebut merupakan sarana Allah Bapa untuk menyelamatkan manusia, yang berpuncak pada diri Yesus Kristus dan diteruskan oleh Gereja hingga akhir jaman. Kita sebagai anggota-anggota Gereja pun mempunyai tuga untuk menghayati dan menjadikannya nyata dalam hidup kita sehari-hari. Demi keselamatan umat manusia!



B. NABI – IMAM – RAJA DALAM RANGKAIAN SEJARAH KESELAMATAN

1. NABI – IMAM – RAJA : PERJANJIAN LAMA HINGGA YESUS KRISTUS

Dalam Perjanjian Lama, kita mengenal ada tiga orang atau kelompok orang yang secara khusus mendapatkan pengurapan dari Allah : Nabi – Imam dan Raja. Mereka diurapi Allah, artinya mereka mendapatkan anugerah Roh Allah. Anugerah ini bukan untuk kehebatan dan ketenaran diri mereka sendiri melainkan dalam anugerah itu terkandung tugas yang sangat tidak ringan.



Nabi

Siapakah dan apakah nabi itu? Nabi = (har) seseorang yang berbicara bagi yang lainnya. Dalam PL nabi adalah orang-orang yang berbicara atas nama Allah bagi kondisi atau keadaan pada masa nabi tersebut. Secara prinsip seorang nabi dapat didefinisikan sebagai seseorang yang mewartakan kebenaran dari Allah, yang dapat menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan masa depan dan juga memberitakan kebenaran Allah lewat pengajaran.

Kita mengenal ada banyak nabi : Musa, Elia, Yesaya, Yeremia, Yehezkiel, Daniel, Amos, Obaja, dsb…..dan Yohanes Pemandi adalah nabi terakhir dari Perjanjian Lama.

KGK, 523: “Yohanes Pembaptis adalah perintis Tuhan yang langsung (Bdk. Kis 13:24.); ia diutus untuk menyiapkan jalan bagi-Nya (Bdk. Mat 3:3.). Sebagai “nabi Allah yang mahatinggi” (Luk 1:76) Ia menonjol di antara semua nabi (Bdk. Luk 7:26.). Ia adalah yang terakhir dari mereka (Bdk. Mat 11:13.) dan sejak itu Kerajaan Allah diberitakan (Bdk. Kis 1:22; Luk 16:16.). Ia sudah bersorak gembira dalam rahim ibunya mengenai kedatangan Kristus (Bdk. Luk 1:41.) dan mendapat kegembiraannya sebagai “sahabat mempelai” (Yoh 3:29), yang ia lukiskan sebagai “Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yoh 1:29). Ia mendahului Yesus “dalam roh dan kuasa Elia” (Luk 1:17) dan memberikan kesaksian untuk Dia melalui khotbahnya, pembaptisan pertobatan, dan akhirnya melalui mati syahidnya (Bdk. Mrk 6:17-29.).“ KGK, 719: “Yohanes itu “lebih daripada nabi” (Luk 7:26). Di dalam dia, Roh Kudus menyelesaikan “tutur sapa-Nya melalui para nabi”.

Yohanes adalah yang terakhir dari mata rantai para nabi yang dimulai dengan Elia (Bdk. Mat 11:13-14.). Ia mengumumkan bahwa penghibur Israel sudah dekat; ia adalah “suara” penghibur yang akan datang (Yoh 1:23) (Bdk. Yes 40:1-3.). Sebagaimana kemudian Roh kebenaran, ia pun datang sebagai “saksi untuk memberi kesaksian tentang terang” (Yoh 1:7) (Bdk. Yoh 15:26; 5:33.). Dengan demikian di depan mata Yohanes, Roh memenuhi apa yang dicari para nabi dan dirindukan para malaikat (Bdk. 1 Ptr 1:10-12.): “Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus. Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Dia inilah Anak Allah… Lihatlah Anak Domba Allah” (Yoh 1:33-36).“

Pada intinya, tugas nabi adalah menyampaikan Sabda Allah, kebenaran yang hendak Allah sampaikan kepada umatNya – termasuk di dalamnya bahkan warta tentang peringatan akan ketidakadilan yang dilakukan oleh umat Allah.



Imam

Keimaman yang resmi berkembang di antara suku Lewi pada jaman Musa. Harun adalah imam agung Israel yang pertama. Dan kemudian daripadanya lahir suku Lewi yang dianungerahi jabatan khusus berdasarkan keturunan, sebagai imam bagi umat Israel. Para imam diangkat oleh Allah (Keluaran 28:1, Bilangan 3:10), ia harus bertindak atas nama manusia dalam hal-hal yang berhubungan dengan Allah. Sebagai contoh, ia harus mempersembahkan kurban dan persembahan karena dosa, memohon doa syafaat bagi umat yang diwakilinya, dan memberkati mereka (Ibrani 5:1 ; Imamat 9:22)
Meski kemudian hari berkembang pula di jaman raja-raja imam-imam yang berasal dari luar keturunan Lewi (bdk. II Sam. 8:17; 20:26; I Raj. 4:5; 1Raj 12:31 memberi tahu bahwa Yerobeam, raja pertama Kerajaan Utara Israel, membentuk keimamannya sendiri, "Imam-imam dari kalangan rakyat yang bukan dari bani Lewi.").

Tugas-tugas imam sangat banyak, apalagi di saat Bait Allah sudah berdiri. Tugas mereka sangat beragam misalnya, satu kelompok mengurus mezbah, dan kelompok yang lain mengurus minyak untuk lampu. Namun bisa dikatakan tugas utama bagi seorang imam adalah menyampaikan kurban yang dipersembahkan umat kepada Allah. Mereka menjadi perantara antara Manusia dan Allah. Hanya kurban yang disampaikan oleh seorang imam yang dianggap layak bagi Allah. Dari kurban tersebut, berkat dan perlindungan Allah mengalir pada umat-Nya. Pertama-tama bukan karena isi kurban itu, melainkan makna yang terkadung dalam kemauan mempersembahkan kurban, yaitu berarti umat Allah masih mentaati perjanjian dengan Allah: masih mengingat Allah sebagai Allah mereka!



Raja

Sesudah masa hakim-hakim, Israel meminta Raja karena melihat suku-suku bangsa disekitarnya juga mempunyai raja. Israel yang dalam bayang-bayang Filistin menginginkan raja sebagaimana bangsa-bangsa sekitarnya. Adanya seorang raja, mulanya dianggap akan merugikan dan menyebabkan mereka melupakan raja mereka yang sejati yaitu Allah. Namun akhirnya Allah meluluskan permintaan itu dan  Samuel, karena kedudukannya diutus mengurapi raja Israel pertama : Saul ditengah kontroversi kelompok  pro dan kontra monarki (1 sam 8-12).

Tugas utama seorang raja adalah sebagai wakil Allah untuk melayani umatNya. Raja yang utama adalah Allah sendiri yang patut disembah. Raja yang menjadi wakil Allah haruslah selalu dalam hubungan baik dengan Allah. Jika raja meninggalkan Allah maka Allah pun akan meninggalkan dia sehingga tidak ada lagi jaminan untuk keselamatan bagi kerajaannya.



Yesus Kristus sebagai Nabi – Imam dan Raja

Mesias yang akan diutus Allah menyelamatkan bangsa Israel adalah dia yang diurapi. Kata Mesias sendiri artinya adalah yang diurapi (Kristos). Karenanya, Yesus yang adalah Kristus (Mesias) datang ke dunia ini sekaligus sebagai nabi, yang mewartakan kebenaran, karena Dia sendiri adalah kebenaran (lih. Yoh 14:6), sebagai imam yang menyediakan Diri-Nya sendiri sebagai Korban dan sekaligus Imam Agung dengan kematiannya di kayu salib,  dan juga sebagai raja, yang memperbaharui kerajaan Daud - bukan sebagai raja di dunia ini, namun sebagai Raja di setiap hati umat manusia dan juga menjadi Raja di dalam Kerajaan Sorga.



2. NABI – IMAM – RAJA SEBAGAI TUGAS GEREJA DAN ANGGOTA GEREJA



Karena Kristus sendiri yang mendirikan Gereja Katolik, maka tiga tugas utama ini terus dijalankan oleh Gereja Katolik. Katekismus Gereja Katolik mengatakan “Yesus Kristus diurapi oleh Bapa dengan Roh Kudus dan dijadikan “imam, nabi, dan raja“. Seluruh Umat Allah mengambil bagian dalam ketiga jabatan Kristus ini, dan bertanggung jawab untuk perutusan dan pelayanan yang keluar darinya (Bdk. RH 18-21.).” (KGk, 783; lihat juga KGK, 1241, 1546, 1581, 436).



- Sebagai nabi, maka Gereja Katolik harus terus mewartakan kebenaran Kristus, mewariskan harta pusaka kebenaran ini dari satu generasi ke generasi secara murni. Tugas pewartaan ini termasuk evangelisasi, katekese, dll.

- Sebagai imam terutama adalah dengan terus memberikan sakramen-sakramen, sehingga Gereja dapat terus membantu umat Allah untuk senantiasa memperoleh rahmat Allah.

- Sebagai raja adalah dengan terus melayani umat dan mengatur Gereja, yang memang mempunyai dimensi hirarki dan institusional.



Pada waktu seseorang menerima Sakramen Baptis, maka seseorang telah diperbaharui di dalam Kristus dan menerima urapan Roh Kristus. Oleh karena itu, tiga tugas utama Kristus, sebagai nabi, imam dan raja juga diberikan kepada umat Allah. Sebagai umat Allah, masing-masing dari kita (!!!) kita harus menjalankan tugas sebagai nabi, imam dan raja.



C. NABI – IMAM – RAJA DALAM PRAKTEK HIDUP SEHARI-HARI

Bagaimana ketiga tugas tersebut harus dihayati? Dipraktekkan? Apakah melulu harus dengan turut aktif berperan serta dalam kegiatan-kegiatan gereja? Menjadi pengurus lingkungan, menjadi katekis, menjadi ini dan itu. Aktif doa lingkungan,memberi kesaksian, kegiatan-kegiatan ini dan itu? Aktif ke gereja, mengikuti Ekaristi dan sakramen-sakramen. Apakah demikian?

Memang sebaiknya demikian, namun menurut saya, sebaiknya kegiatan-kegiatan itu harus dilaksanakan sebagai ungkapan dan luapan penghayatan akan ketiga tugas itu secara pribadi. Maksudnya? Ada bahaya bahwa kegiatan-kegiatan dan kesibukan-kesibukan (aktivisme) itu dilakukan bukan dari dalam melainkan karena desakan-desakan (yang kadang tak terasa) mencari jati diri dan keinginan untuk menonjolkan diri.

Bacaan Injil yang kita pilih hari ini tentang kedua anak Zebedeus menunjukkan ada yang salah dari motivasi mereka mengikuti Yesus. Kedua anak Zebedeus itu adalah rasul-rasul yang selama ini ikut aktif mendampingi Yesus, dalam suka dan duka. Namun mereka pun terjebak dalam kesalahan mencari diri sendiri dan keinginan menjadi lebih dari yang lain.

Untuk bisa melakukan sebagaimana yang dituntut Yesus : “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu” – seseorang dituntut untuk mampu menginternalisasi nilai-nilai ajaran Kristus pertama-tama di dalam dirinya sendiri dahulu, termasuk ketiga tugas (dan anugerah) yang kita bahas di atas. Bagaimana caranya? Sebenarnya sederhana saja, kita melakukannya dalam keadaan pribadi, diam-diam, sendiri tanpa diketahui orang lain dan terutama dalam kesederhanaan dalam berhubungan dengan Allah :

Sebagai  Nabi :

- Mewartakan  sabda Allah: dalam lingkup kecil : bagaimana kita sendiri  belajar, menanggapi, mendalami sabda Allah?  

- Bagaimana sikap kita “membicarakan” Allah Kepada anak-anak kita? berdoa - malu!

- Apakah kita berani menyuarakan kebenaran - berani bersikap meski tidak enak : nabi Natan vs raja Daud, Nabi Elia harus bersembunyi karena menyampaikan kritiknya kepada Raja Ahab karena membangun kuil untuk dewa Baal

- Penyakit dewasa ini : keengganan untuk ikut campur dalam masalah orang. Kita hanya mau mengurus urusan kita sendiri. Selama dia tidak melukai saya, maka saya tidak akan berkomentar apa-apa



Sebagai Imam Imam :

- Membawa persembahan : persembahan diri kita, tubuh kita perasaan kita: kurban bakaran tidak kau sukai, persembahan kepada Allah adalah jiwa yang menyesal! (Mzm 51:  )

- Bagaimana doa pribadi kita? Sekedar tanda salib sebelum kan? Apakah kita mengupayakan saat teduh? Kapan? Sambil nyetir?

- Menjadi perantara Manusia - Allah : mempersembahkan doa-doa: dengar sirene guing-nguing, dengar berita kecelakaan, melewati kuburan, iring-iringan orang meninggal? Kita mempunyai kesempatan luas untuk berdoa bagi mereka – sebagai aktualisasi tugas imamat umum kita!



Sebagai Raja Raja : kekuasaan

- Melayani : bagaimana kita menghayati kegiatan kita sehari-hari? Apakah karena terpaksa? Desakan keadaan? Terlanjur?

-Penguasaan diri : merajai diri sendiri. Dorongan-dorongan dari dalam diri, emosi, kuda-kuda liar yang kerap tak terkontrol dari dalam diri kita.

Dengan mempraktekkan ketiga tugas tersebut secara diam-diam, sendiri, pribadi, jujur dan tulus maka pundi-pundi Rohani kita akan pelan-pelan terisi. Dan akhirnya kita semakin mampu menjadi saksi Kristus bagi orang lain. Semakin mantap dalam tindak kegiatan menggereja, di lingkungan, di wilayah, di paroki, kegiatan ini dan itu dan sebagainya. Apa yang kita lakukan itu semua meluap dari perbendaharaan kita – kita hanya bisa memberikan apa yang kita punyai bukan sebaliknya. Dan perbendaharaan itu senantiasa, terus menerus kita isi, secara sederhana, secara diam-diam, secara pribadi dalam hubungan mesra dengan Kristus – disemua kondisi dan langkah dan detik hidup kita.

Dalam kerendahan hati (ingat rendah hati = humilitas : berhubungan dengan tanah – humus) kita berhubungan dengan Allah. Senantiasa “mencharge” baterai kita dengan Allah sehingga pelayanan yang kita lakukan senantiasa berdaya guna – powerfull – bukan hanya ketika dilihat orang melainkan dalam kesederhanaan yang sangat pribadi dengan Allah.

Dari Berbagai sumber....

Tidak ada komentar: