Jumat, 26 April 2013

PERKAWINAN DI KANA



Perkawinan di Kana



Saudara-saudara Terkasih,
Suasana pesta sangat meriah. Banyak tamu berdatangan. Tempat penuh sesak dan meriah menghadiri pesta perkawinan yang di Kana di Galilea itu. Sang tuan rumah adalah orang yang mempunyai banyak sahabat, disukai banyak orang dan cukup terpandang sehingga setiap undangan merasa "tidak enak" kalau tidak datang.
Dan disebutkan secara terpisah bahwa ibu Yesus, Maria ada di pesta itu – Yesus dan para murid diundang juga .
Saudara-saudara,
Di tengah meriahnya suasana pesta, rupanya ada yang tidak disadari banyak orang, termasuk sang pemimpin pesta / EO. Ternyata jumlah yang hadir melebihi jumlah anggur yang disediakan. Hal ini bisa berakibat sangat fatal bagi kehormatan dan harga diri kedua mempelai. Anggur bagi masyarakat Yahudi adalah lambing kegembiraan. Tidak ada pesta tanpa anggur!
Namun Maria yang dikatakan ada disana, mengerti dan menyadari situasi sulit ini. Dan Maria menyampaikannya kepada Yesus. Yesus bertindak, menyuruh para pelayan mengisi tempayan-tempayan yang digunakan sebagai pembasuhan dengan air dan membawanya kepada sang pemimpin perjamuan.
Dan sang pemimpin pesta / EO yang tidak mengerti situasinya menjadi heran, mengapa tuan rumah menghidangkan anggur yang lebih baik setelah anggur yang biasa saja. Logikanya seharusnya yang baik diawal saat orang masih sadar - yang kurang baik kemudian. Sebagai "jog-jog-an" saja yang toh tidak akan terlalu terasa karena para tamu sdh setengah mabuk dan kenyang.


Saudara-saudara,
Kemeriahan pesta berjalan terus. Suasana semakin meriah - makin banyak orang ikut bersukaria. Tidak banyak yang tahu apa yang terjadi.... Mungkin hanya Maria, Yesus dan para Murid yang mendengar pembicaraan mereka - dan para pelayan yang mengisi tempayan.

Dan  pada akhir kisah itu ditulis oleh Yohanes -  pada ayat 11 sebagaƍmana dikutip di halaman depan buku ini : “hal itu dibuat Yesus di kana..... yang pertama dari tanda-tandaNya....murid percaya....

Saudara-saudara terkasih,
Apa yang dimaksud dengan kata "HAL ITU..." Di sini? Kita pasti dengan cepat menjawab bahwa yang dimaksud adalah peristiwa mukjijat Yesus mengubah air menjadi anggur.... Benar, namun menurut saya lebih dari itu.
Kata "Hal ITU " di sini mengacu pada hal yang lebih dalam, yaitu mengacu pada keseluruhan suasana saat itu - bukan sekedar pada peristiwa air menjadi anggur. Tanda yang membuat para murid percaya bukan sekedar peristiwa mukjijat – melainkan Pribadi Yesus sendiri. Mereka melihat dan menjadi yakin  bahwa dengan   kehadiran pribadi Yesus, segalanya menjadi teratasi - dengan kehadiran Yesus suasana pesta terus berlangsung, bertambah banyak orang yg bergabung turut bergembira. Para murid menjadi yakin bahwa kehadiran Yesus membuat orang tak kurang suatu pun. Itulah tanda awal yg membuat para murid percaya kepadaNya.


Saudara-saudara,
Dalam peristiwa itu kita melihat jelas peran Bunda Maria. Maria seolah menjadi jembatan antara Yesus dengan para pelayan. Maria menjadi jembatan antara situasi darurat yang bahkan tidak disadari dengan kemeriahan pesta yang terus berlangsung.
Apa yang dilakukan Maria? Maria hanya mengatakan kepada Yesus bahwa "mereka kehabisan anggur". Titik. Dan apa jawaban Yesus? “Mau apa daripadaku Ibu? Saat ku belum tiba”.

Ini adalah kata-kata yang kerapkali disalahartikan, seolah Yesus marah, berkata tidak enak kepada Maria karena Maria "memaksa" Yesus melakukan sesuatu.
Yesus tidak mungkin melakukan hal itu. Dia tidak mungkin melanggar perintah Allah untuk menghormati ibu - bapa. Dan lagi pula, kata-kata : "mau apa daripadaku" sebenarnya ungkapan lazim bagi budaya di sana.
Ini ungkapan netral yang bisa jadi diungkapkan dengan sinis, dengan manis, atau dengan marah. (Semacam : opo o ? Dalam bahasa kita). Artinya kira-kira  : gak perlu repot-repot, buk kuatir, tenang aja dan semacamnya. Jadi bukan ungkapan hinaan kepada Maria, apa lagi dengan embel-embel kata "ibu" di sana, pasti bukan mengacu pada suatu yang kasar.

Dan Maria pun hanya menyampaikan situasi serta keadaan yang terjadi. Kalimatnya kalimat berita. Tidak ada kata perintah sama sekali di sana.

Sebenarnya yang menarik di sana adalah : mengapa Maria menyampaikan hal ini kepada Yesus? Bukankah sebelumnya Yesus belum pernah menunjukkan tanda-tanda mukjijat?
Jadi sebenarnya bisa saja Maria mencari solusi lain - selain menyampaikannya kepada Yesus. Galilea saat itu adalah satu kota perdagangan yang cukup ramai. Rasanya tidak terlalu sukar untuk mencari / membeli anggur di tempat lain - meski mungkin anggurnya tidak sebaik anggur yang sudah dihidangkan - toh para tamu tidak akan terasa karena sudah pada setengah mabuk. Jarak antara Galilea dan Kana hanya sekitar 5 km saja. Mengapa Maria tidak menyampaikan kesulitan ini kepada pemimpin pesta saja?

Rupanya dari awal Maria telah yakin dan percaya bahwa Yesus mempunyai solusi untuk menyelamatkan tuan rumah dari rasa malu. Meski dikatakan Yesus bahwa "saat ku belum tiba" - Maria percaya Yesus mempunyai perhitungan sendiri. Ia sama sekali tidak mendesak Yesus. Ia hanya berpaling kepada para pelayan agar melakukan apapun yang diperintahkan Yesus. Maria menjadi perantara antara pelayan dan Yesus.

Saudara-saudara,
Banyak hal yang bisa kita petik dari peristiwa ini.
Kita belajar dari Maria yang tidak mendesak-desak Yesus. Maria percaya bahwa Yesus mempunyai perhitungannya sendiri. Sering dalam doa dan permohonan kita merasa bahwa semuanya penting dan mendesak. Doa-doa kita menjadi penuh dengan tanda seru dan janji-janji. “Tuhan tolong kabulkan, aku berjanji jika terkabul aku akan…..” . Dan kita menjadi begitu gelisah karena seolah tidak ada jawaban.
Bisa jadi bahwa saat itu Tuhan tengah berbicara kepada kita "mau apa daripadaku? Saatku belum tiba". Dan sikap Maria yang menaruh kepercayaan penuh kepada perhitungan Tuhan bisa menjadi teladan bagi kita. Yesus tetap mendengarkan doa-doa kita – bahkan meski saatnya belum tiba. Apa yang harus kita lakukan? Yang harus kita lakukan adalah seperti yang dikatakan Maria kepada para pelayan : Apa yang dikatakan Yesus, lakukanlah itu.  Yesus mungkin akan menyuruh kita mengisi tempayan-tempayan yang ada pada kita. Dia tidak akan meminta kita melakukan sesuatu yang diluar kemampuan kita. Dia tidak menyuruh kita mempersembahkan apa yang tidak ada pada kita. Yang ada pada kita mungkin hanya lima roti dan dua ikan. Atau bisa jadi Dia menyuruh kita bertolak menuju tempat yang dalam, karena di sana tempat ikan besar berada. Melakukan apa pun yang dikatakan Yesus adalah cara yang tepat menantikan saat Tuhan bertindak.

Saudaraku terkasih, terutama dua calon mempelai
Hidup keluarga tidak selamanya mulus. Suasana tidak selamanya pesta. Ada saatnya hidup berkeluarga menjadi seperti mengarungi perahu di tengah badai lautan. Ada saatnya semua yang sekarang ini tampaknya indah, kompak, harmonis bisa berubah menjadi seperti lagunya Cakra khan : ku menangis kau tersenyum, kuberduka kau bahagia, ku pergi kau kembali……
Apa yang harus kita lakukan saat hal itu terjadi? Yang harus kita lakukan adalah senantiasa mengundang Yesus, mengundang Maria, untuk senantiasa hadir dalam keluarga kita. Senantiasa mengundang mereka untuk selalu tinggal dalam Gereja kecil yang sedang kita bangun ini.
Dan sebagaimana yang terjadi dengan para Murid, dengan mengundang mereka – kita akan melihat dan mengalami banyak hal tanda-tanda kemuliaanNya yang akan membuat kita senantiasa percaya. Kita akan senantiasa dalam lindunganNya, bahkan terhadap hal-hal buruk yang mengancam tanpa kita sadari – kita akan dibebaskanNya. Belajar dari para murid bahwa kehadiran Yesus membuat Gereja baru ini tidak akan pernah kehabisan anggur sukacita!

Amin

Jumat, 25 Mei 2012

Apakah Engkau Mencintai Aku?

APAKAH ENGKAU MENCINTAI AKU?

Bacaan Jumat 25 Mei 2012 Masa Paskah Tahun B / II

Yohanes 21 : 15 - 19

21:15 Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi (Agape) Aku lebih dari pada mereka ini?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi (Phileo) Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku."

21:16 Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi (agapo) Aku?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi (Phileo) Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku."

21:17 Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi (Phileo) Aku?" Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: "Apakah engkau mengasihi (Phileo) Aku?" Dan ia berkata kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi (Phileo) Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku.

21:18 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki."

21:19 Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: "Ikutlah Aku."

Saudara-saudara, kita pasti terkesima membaca perikop ini. Kita seolah merasa seperti Petrus yang ditanya Yesus: Apakah engkau mencintai Aku? Tiga kali bahkan pertanyaan itu diulang.

Saudara, jika kita membaca perikop ini dalam bahasa aslinya, bahasa Yunani, maka kita akan terkesima dengan permainan kata yang sangat dalam dengan kata cinta. Dalam bahasa Yunani ada 3 tingkatan cinta / kasih : eros, filia dan agape.

- Eros adalah cinta yang ingin memiliki, yang mencari kepuasan pribadi, seringkali fisikal. Aku mencintai SUPAYA aku dicintai.

- Filia adalah cinta seorang sahabat, yang mencari kebahagiaan orang yang dicintai, tapi tetap memiliki elemen kepuasan pribadi, masih ada kepentingan – masih ada pamrih. Cinta manusiawi yang ditandai dengan kelemahan.

- Agape adalah cinta sejati tanpa syarat, cinta yang mau berkorban, yang hanya mencari apa yang baik untuk dicintai.

Ketika Yesus bertanya kepada Petrus pertama kalinya: “apakah engkau mencintai Aku?”, Yesus bertanya dengan menggunakan agape: Petrus, apakah engkau mencintai Aku tanpa syarat, dan rela berkorban? Petrus tidak mampu menjawab dengan agape. Ia menjawab dengan filia : Aku mencintai Engkau sebagai seorang sahabat yang terbatas, masih ada kepentingan dan pamrih dibalik kata cintaku padaMu.

Dialog yang sama terulang kedua kalinya. Pertanyaan Agape – dijawab filia.

Mengapa Petrus tidak mampu menjawab cinta agape Yesus dengan agape pula? Bukankah dia "ketua kelas" para rasul?
Bukan karena Petrus tidak mau, bukan pula Petrus tidak tahu pertanyaan Yesus. Petrus dengan jujur mengatakan bahwa sesungguhnya dia masih tidak mampu menjawab cinta agape Yesus dengan agape pula. Petrus yang pernah menyangkal Yesus seolah “trauma” dengan masa lalunya dimana ia pernah dengan lantang akan membela Yesus mati-matian namun justru menyangkal Dia saat Yesus diadili. Petrus jujur dan tahu diri.

Akhirnya yang ketiga kalinya Yesus “menyerah dan memahami” dengan keadaan Petrus. Ia bertanya kepada Petrus dengan menggunakan filia. “Apakah engkau mencintai Aku sebagai seorang sahabat dengan segala kekuranganmu?” “Ya Yesus, aku mencintai Engkau dengan segala kekuranganku.”

Saudaraku, betapa indah dan dalam dialog di atas.

Mari kita juga merenungkan kira-kira apa jawaban kita jika Yesus bertanya kepada kita. Mari kita meneladan Petrus yang dengan jujur tahu diri dan menyerahkan diri kepada kehendak Allah : “Tuhan Engkau tahu segala sesuatu, engkau tahu bahwa aku (saat ini masih) filia terhadap Engkau”. Jawaban Petrus yang jujur itu menjadi teladan bagi kita, apakah sebenarnya cinta kita pada Yesus? Apakah bahkan masih pada tahap cinta eros? Aku mencintai Engkau karena supaya Engaku mencintai aku? Aku berdoa supaya kau kabulkan doa-doaku? Aku menyembah Engkau supaya kau hindarkan aku dari segala malapetaka? DO UT DES : Saya member supaya Engkau memberi…….

Atau tataran cinta kita masih pada cinta Filia?

Saudara-saudara, Petrus butuh waktu 30 tahun lagi untuk membuktikan cintanya pada Yesus, sesuai dengan pertanyaanNya yang pertama : menjawab agape – dengan agape.
30 tahun setelah pertanyaan itu, Petrus telah berada di Roma untuk menyebarkan Kabar Gembira. Ketika itu terjadi pembunuhan orang-orang Kristen di Roma oleh Nero, Petrus melarikan diri dari Roma. Di jalan ia bertemu Yesus yang sedang berjalan menuju Roma. “Quo vadis Domine?” “Ke mana engkau pergi Yesus?” “Ke Roma untuk disalibkan kedua kalinya.” Dengan sangat malu dan sedih Petrus kembali ke Roma. Kali ini dia menjawab pertanyaan Yesus dengan hidupnya. Ia minta untuk disalibkan bahkan disalibkan terbalik.

Apakah engkau mencintai Aku?

Anda dan saya dipanggil untuk hidup dalam kekudusan, untuk mencintai Allah dengan lebih sempurna hari demi hari. Mari kita saling mendoakan agar bisa menerima teladan bagaimana mencintai Allah dengan lebih murni. Dan jangan pernah putus asa untuk terus bangun ketika anda jatuh untuk sekali lagi berjalan mencintai Yesus yang sudah lebih dahulu mencintai anda dengan penuh pengorbanan.



25 Mei 2012 – Untuk Link 2 Elisabeth

Inspired by Rm Adrian OP



Rabu, 23 Mei 2012

TINGGAL PADAKU

TINGGAL PADAKU



Bacaan Harian Rabu, Pekan VII Paskah B/II

Yoh 17 : 11b - 19

Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita.

17:12 Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku; Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorang pun dari mereka yang binasa selain dari pada dia yang telah ditentukan untuk binasa, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci.

17:13 Tetapi sekarang, Aku datang kepada-Mu dan Aku mengatakan semuanya ini sementara Aku masih ada di dalam dunia, supaya penuhlah sukacita-Ku di dalam diri mereka.

17:14 Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka dan dunia membenci mereka, karena mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia.

17:15 Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat.

17:16 Mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia.

17:17 Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran.

17:18 Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia;

17:19 dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya mereka pun dikuduskan dalam kebenaran.

Saudara-saudara, bacaan-bacaan Injil Masa Paskah sangat kental dengan nuansa kesatuan yang ditunjukkan oleh Yesus dengan BapaNya. Banyak orang merasa bahwa bacaan dari Injil Yohanes di Masa Paskah ini sangat sukar untuk dipahami karena maknanya yang sangat dalam. Demikian juga saya. Kekayaan Injil Yohanes kerap kali membuat pusing para pembacanya.

Namun syukur pada Allah, sejak beberapa hari ini, di telinga saya terngiang-ngiang terus satu lagu yang sangat kita kenal dari MB 559 : Tinggal padaku.

Bagi saya lagu ini dengan sederhana menyatakan bagaimana persatuan antara Yesus dengan BapaNya itu bisa kita cerna dalam hidup kita sehari-hari.


TINGGAL PADAKU YESUS TUHANKU
SUDAH SENJA JANGANLAH BERLALU
SIAPA KAN MENOLONG HAMBAMU
HANYA YESUS TINGGALLAH PADAKU

DI DUNIA BERUBAH SEMUA
HORMAT DAN NAMA HILANG DAN MUSNAH
BAHAGIA TETAP PADA YESUS
YANG TAK BERUBAH TINGGAL PADAKU

YESUSLAH JALAN DAN KEHIDUPAN
SABDANYA ADALAH KEBENARAN
BAHAGIA YANG TURUT SINARMU
JURU SLAMATKU TINGGAL PADAKU

Henry Francis Lyte in 1847


Lagu ini rupanya diambil dari lagu bahasa Inggris : Abide with me – karangan Henry Francis Lyte 1847. Dia menulis lagu ini saat terkapar sakit parah (TBC) dan ia meninggal tiga minggu setelah selesai menuliskannya. Lagu ini banyak dinyanyikan orang Kristen dari lintas denominasi. Lagu ini pula menjadi salah satu lagu favorit Raja Henry V dan Mahatma Gandhi. Bagi kita mungkin mengenal lagu ini sebagai lagu yang kerap dinyanyikan dalam ibadat kematian, meski tidak harus demikian.

Saudara-saudara, hari ini kita mendengar satu kutipan mengenai doa Yesus kepada Bapa sebelum Ia ditangkap dan diadili untuk disalibkan. Kalau kita cermati bacaan tadi, sekurangnya ada dua hal yang diminta Yesus kepada Bapa bagi kita :


Peliharalah Mereka dalam Nama-Mu

Yesus bahkan berdoa bagi kita agar Bapa sudi memelihara kita : “peliharalah mereka dalam nama-Mu”. Bagi saya pribadi, doa ini menjadi satu jaminan yang kuat dan pasti bahwa Allah Bapa senantiasa akan memelihara dan menjaga kita, bahwa kita tidak akan ditinggalkan seperti orang yatim piatu.

Mengapa Allah sendiri yang harus menjaga dan memelihara kita? Karena kita bukanlah dari dunia – sebagaimana Yesus sendiri bukan dari dunia - namun kita ada di dunia.
Namun anehnya saudara-saudara, kerap kali permintaan dan doa-doa kita sendiri justru menghendaki agar kita semakin sesuai dengan dunia. Semakin kaya, semakin sehat, semakin cantik, semakin sukses, semakin makmur menurut ukuran-ukuran duniawi. Apakah salah doa-doa kita ini? Sama sekali tidak salah, namun kita diingatkan bahwa ukurannya bukan hal yang duniawi. Standar patokan bukan yang kelihatan. Mengapa? Dengan tepat Henry Lyte menuliskan : Di dunia berubah semua. Hormat dan nama hilang dan musnah. Bahagia tetap pada Yesus, yang tak berubah tinggal padaku.

Ukurannya bukan hal duniawi. Kita akan kecewa jika kita melihat segala sesuatu dari ukuran harta, jabatan, penampilan dan apa yang tampak saja. Bukan berarti kita tidak boleh berkecukupan, bukan. Sekali lagi itu bukan ukurannya. Bagi yang sekarang berada janganlah sombong. Jika suatu saat dunia berubah janganlah goncang. Bagi yang kurang berada janganlah minder karena ukurannya bukanlah harta. Ukurannya adalah persatuan mesra dengan Yesus. Tinggal dalam Yesus seperti Yesus tinggal dalam Bapa.


Kuduskanlah mereka dalam Kebenaran

Saudara-saudara, Yesus berdoa bagi kita. Mungkin kita pernah mendengar anak kita berdoa buat kita. Kita tentu terharu dibuatnya. Namun yang lebih menakjubkan lagi jika kita pernah mendengar doa yang dihaturkan oleh ayah-ibu kita bagi kita. Apa yang mereka doakan bagi kita? Tentu kebaikan-kebaikan yang berguna bagi kita. Kita yakin pasti bahwa doa mereka pasti didengar Allah.

Apa yang didoakan Yesus buat kita? Yesus ingin agar kita dikuduskan! Agar kita menjadi kudus. Dan rupanya inilah yang menjadi kehendak Allah bagi kita: agar kita kembali menjadi seperti sediakala, saat Adam dan Hawa belum jatuh dalam dosa. Kita kudus dan dalam persatuan yang dekat dengan Allah. Kekudusan inilah yang senantiasa diusahakan oleh Allah bagi kita. Sejak manusia jatuh dalam dosa, melalui para nabiNya, Allah berupaya agar kita kembali kepadaNya. Namun selalu gagal. Dan akhirnya Allah mengutus PuteraNya yang Tunggal untuk mendamaikan segala-galanya. Kekudusan inilah yang harus senantiasa kita upayakan.


Saudara-saudara, telah 23 hari kita berdoa bersama Bunda Maria di bulan Mei ini. Dan di hari-hari ini kita memohon agar Roh Kudus semakin Nampak bekerja dalam diri kita. Roh Kudus yang telah dicurahkan dalam pembabtisan dan krisma itu kita mohonkan untuk semakin menerangi langkah kita menuju kekudusan. Hari-hari ini kita diajak untuk memohon hal yang selama ini mungkin kita abaikan: memohon hal yang bukan duniawi, bukan sesuatu yang tampak, namun kita mohon Sang Penolong untuk menyertai langkah kita menuju kekudusan.

Jika Yesus, yang adalah Allah sendiri berdoa bagi kita, hendaklah kita juga berupaya sedapat mungkin agar doa Yesus itu tercapai, seperti jika kita mendengar doa-doa dan harapan orang tua kita pada kita.



Semoga!

23 Mei 2012 – menjelang Pentakosta: untuk Lingkungan 1 Elisabeth