Tampilkan postingan dengan label mariologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mariologi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 September 2011

MARIOLOGI 6 : DOGMA MARIA IMMACULATA CONCEPTIO




A. PENGANTAR
• Dogma ini dinyatakan Oleh Paus Pius IX Ineffabilis Deus, pada tanggal 8 Desember 1854 : Sesungguhnya, dogma SP Maria Tanpa Noda Dosa adalah keyakinan “… bahwa perawan tersuci Maria sejak saat pertama perkandungannya oleh rahmat yang luar biasa dan oleh pilihan Allah yang mahakuasa karena pahala Yesus Kristus, Penebus umat manusia, telah dibebaskan dari segala noda dosa asal”(Paus Pius IX, Ineffabilis Deus).
• Jauh sebelumnya Pesta Maria Dikandung Tanpa Noda tanggal 8 Desember dimulai tahun 1476 oleh Paus Siktus IV. Ia tidak membuat doktrin tersebut sebagai sebuah dogma sehingga membiarkan umat Katolik Roma untuk bisa percaya atau tidak tanpa risiko dituduh menentang ajaran gereja. Kebebasan ini ditegaskan sekali lagi oleh Konsili Trento. Keberadaan pesta perayaan ini adalah sebuah tanda kuat mengenai kepercayaan Gereja atas Maria Dikandung Tanpa Noda, bahkan jauh sebelum peresmiannya sebagai sebuah dogma di abad ke-19.
• Dalam hal ini, dogma ini juga dipandang sebagai sebuah contoh penting dari penggunaan sensus fidelium yang berkembang di tengah-tengah umat dan Magisterium, tidak hanya bersandar sepenuhnya pada Kitab Suci dan tradisi.
• Meski demikian Gereja percaya bahwa dogma ini didukung oleh Kitab Suci dan oleh tulisan Bapa-bapa Gereja serta oleh logika akal budi : oleh karena Yesus menjadi daging di dalam tubuh Sang Perawan Maria, adalah suatu hal yang masuk akal apabila Maria bebas dari segala dosa, untuk menyiapkan tempat yang layak bagi Putera Allah dan Maria sendiri bisa menyatakan penyerahan dirinya atas kehendak Ilahi. Karena pentingnya peran Maria, maka Allah (berhak) membuat pengecualian untuk Maria.

B. LATAR BELAKANG DOGMA
• Tahun 1849, Pius IX meminta pendapat para uskup di seluruh Gereja mengenai apa yang mereka sendiri, para klerus, dan umat rasakan mengenai keyakinan ini dan apakah mereka menghendakinya agar ditetapkan secara resmi. Dari 603 uskup, 546 memberikan tanggapan positif tanpa ragu. Dari mereka yang menentang, hanya lima yang mengatakan bahwa doktrin tersebut tidak dapat ditegaskan secara resmi, 24 tidak tahu apakah ini adalah saat yang tepat, dan 10 menghendaki agar mereka yang menentang doktrin tersebut dinyatakan salah.
• Paus Pius juga melihat kelesuan rohani dalam dunia dimana kaum rasionalis telah menyangkal kebenaran dan segala sesuatu yang adikodrati, di mana revolusi-revolusi sosial mengakibatkan gejolak dalam masyarakat, dan revolusi industri mengancam martabat para pekerja dan kehidupan keluarga.
• Oleh sebab itu, Paus Pius menghendaki dibangkitkannya kembali kehidupan rohani umat beriman dan beliau melihat tidak ada cara yang lebih baik selain dari menampilkan kembali teladan indah Bunda Maria dan perannya dalam sejarah keselamatan.
• Menarik juga disimak bahwa dalam beberapa penampakan, Santa Perawan sendiri menegaskan dogma itu.
– Pada tanggal 9 Desember (tanggal yang ditetapkan sebagai Perayaan SP Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa di Kerajaan Spanyol) 1531 di Guadalupe, Bunda Maria mengatakan kepada Juan Diego, “Akulah Perawan Maria yang tak bercela, Bunda dari Allah yang benar, yang melalui-Nya segala sesuatu hidup…”
– Tahun 1830, Bunda Maria mengatakan kepada St. Katarina Laboure agar dibuat Medali Wasiat dengan tulisan, “O Maria sinelabe originali concepta, intersede pro nobis, qui ad te confugimus”
– Terakhir, ketika menampakkan diri kepada St. Bernadete di Lourdes pada tahun 1858, Bunda Maria mengatakan, “Akulah yang Dikandung Tanpa Noda Dosa.”

C. SALAH PAHAM TENTANG DOGMA INI
• Sangkaan non Katolik : Dogma Maria Imaculata mengacu pada awal kehidupan Yesus dalam rahim Maria. Padahal lebih jauh dari itu, yaitu pada sejak awal Maria dikandung oleh ibunya: St. Anna, ia telah bebas dari dosa asal dan segala pengaruhnya.
• Sangkaan lainnya (kadang dari Katolik!) yang sebenarnya berkait dengan sangkaan sebelumnya bahwa Maria ditebus bukan oleh Yesus melainkan oleh Allah sendiri, karena saat Maria dikandung Yesus belum lahir

D. DASAR BIBLIS


i. Luk 1:28 "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau”.
• Kesaksian Gabriel secara pasti menyatakan kekudusan Bunda Maria yang luar biasa. “Engkau yang dikaruniai (kechariotomene)” menurut Origenes, sebutan ini tak pernah diberikan kepada orang lain kecuali Maria!
• Maria dikaruniai dengan anugerah tak terhingga yaitu Yesus sendiri
• Gabriel tidak menyapa Maria dengan namanya, melainkan dengan nama barunya, hakekatnya : penuh rahmat – itulah namanya yang sebenarnya (Paus Yohanes Paulus II, ensiklik RMT – Maria Bunda Penebus 1986)
• Beberapa exeget keberatan dengan terjemahan vulgata : kecharitomene ; terjemahan yang lebih tepat untuk frasa itu adalah pleres charitos, yang digunakan juga dalam Yoh 1:14 dan oleh Stefanus dalam Kis 6:8.
• Dalam terjemahan Luk 1:28 versi Inggris lebih beragam :
– New Jerusalem Bible : “Berbahagialah engkau yang diberkati Tuhan! Tuhan menyertai engkau”
– New Amerrican Bible : “berbahagialah engkau o puteri yang penuh rahmat! Tuhan menyertai engkau”
• Mengapa keberatan? Kerena terjemahan yang tidak tepat itu memberikan kesan bahwa rahmat yang diberikan kepada Maria tidak berbeda kepada wanita-wanita lain dalam KS. Jika dia hanya penuh rahmat dalam konotasi biasa maka ia tidak berbeda dengan Elisabeth/Sara/ Hana. Mereka semua mandul dan memperoleh “rahmat”.
• Sementara Rahmat / karunia yang diterima Maria adalah anugerah tak terhingga yaitu Yesus sendiri. Rahmat yang penuh, kuat, dan lengkap. Keadaan berahmat itu bukan melulu saat disampaikan Gabriel melainkan sejak Maria dikandung dan sepanjang hidupnya.

ii. Penggenapan Kej 3:15 : Maria Hawa Baru – Maria Tabut Perjanjian Baru (lihat uraian tipologis)
– Maria adalah “perempuan” yang dimaksud dalam Kej 3:15; Yoh 2:4; 19:26; Why 12:17.
– Maria disiapkan sebagai Tempat Kudus bagi Sang Putera : gelar Maria sebagai bejana rohani, Tabut Perjanjian, dsb.

E. AJARAN BAPA GEREJA
• Pengarang pertama ajaran ketidakberdosaan Maria adalah Pellagius dan diteguhkan Agustinus (aneh : dalam soteriologi mereka sangat berseberangan – perlunya rahmat!)
• Di timur : St. Efraim mengubah syair tentang Maria tanpa cela. Andreas dari Kreta dan Yohanes dari Damsyik
• Di barat mengalami kemandekan : ajaran Agustinus juga bahwa semua orang butuh penebusan Kristus karena semua orang berdosa (asal) yang diwariskan secara turun – ketegangan antara kebutuhan umum akan penebusan dan kebebasan Maria dari dosa asal.
• Meski demikian Greg. Nazianse (390), Greg. Nysaa (395), Sophronius (638), Joh. Damaskus (749) tetap mengajarkan Marai terlindungi dari dosa asal.
• Baru abad 13-14 oleh Yohanes Duns Scotus (Doktor mengenai Maria) ajaran redemptio praeservativa di ajarkan.

F. REDEMPTIO PRESERVATIVA Duns Scotus (1308)
• Kekudusan Maria adalah Karya Yesus. Di antara semua perempuan, hanya Maria yang puteranya ada sebelum ia ada. Penghormatan Yesus terhadap Maria tidak menunggu sampai Ia menjelma melainkan sejak awal mula pula. Allah tidak terikat ruang dan waktu, perkara “sebelum” dan “sesudah” tidak berlaku bagiNya
• Sejak Maria dikandung, Karya Penyelamatan Yesus telah bekerja. Maria diselamatkan Yesus dengan cara yang khas dan unik.
• Illustrasi : menyelamatkan anak dari tenggelam
• Kita diselamatkan Yesus dengan cara ditarik keluar dari kubangan dosa (redemptio restorativa), sedangkan Maria diselamatkan Yesus dengan dijaga sedemikian rupa (redemptio praeservativa) sehingga Maria tidak pernah jatuh sama sekali dalam dosa.
• Ajaran ini ditentang kaum makulanis (makula = dosa) hingga tahun 1477 Paus Sixtus IV menegaskannya sebagai ajaran Gereja.
• Konsili Trente (1546) menerangkan bahwa konsili tidak melibatkan Maria dalam universalitas dosa asal (dikecualikan)
• Ajaran serupa ditegaskan oleh Paus Alexander VIII (1690) dalam rangka melawan Jansenisme.
• Hingga akhirnya ajaran ini ditetapkan sebagai dogma oleh Paus Pius IX (1854)
• “Bahwa Maria `sejak saat pertama ia dikandung, dikarunia cahaya kekudusan yang istimewa', hanya terjadi berkat jasa Kristus: `Karena pahala Puteranya, ia ditebus secara lebih unggul'” (KGK 492).
• “Tidak mengherankan bahwa di antara para Bapa Suci menjadi lazim untuk menyebut Bunda Allah suci seutuhnya dan tidak terkena oleh cemar dosa mana pun juga, bagaikan mahluk yang diciptakan dan dibentuk oleh RK. Perawan dari Nazareth itu sejak saat pertama dalam rahim dikurniai dengan semarak kesucian yang sangat istimewa” (LG 56)
• Dogma Maria Imaculata sekaligus merupakan refleksi atas rencana semula Allah menciptakan manusia dalam keadaan rahmat (suci) dan bebas dari dosa, sepert Adam dan Hawa di Firdaus.

G. MENGAPA HARUS DEMIKIAN? SOAL-JAWAB

i. Luk 1:47 "Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku." Mengapa Maria memerlukan seorang Juruselamat, tanya mereka, jika ia tanpa noda dosa?
• Maria benar, dia juga membutuhkan penyelamat! Sebagaimana keturunan Adam lainnya, dari kodratnya Maria tetap membutuhkan penyelamat, namun campur tangan Allah yang istimewa membuat dia terhindar dari hal dosa (redemptio praeservativa), Maria diselamatkan oleh Kristus. Karenanya dogma ini tidak bertentangan dengan Luk 1:28

ii. Tapi mengapa dia menyebut dirinya rendah (Luk 1:48)? Bukankah dia menyadari diri sebagai “tidak pantas”?
• Siapa yang bisa merasa “tinggi” jika berhadapan dengan Allah? Dibandingkan dengan Allah, semua ciptaan, tidak peduli betapapun sempurnanya adalah rendah, termasuk Maria.
• Dosa bukanlah satu-satunya penyebab kerendahan.

iii. Bagaimana dengan Rm 3:23 “semua orang telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah”. Rm 3:10 “tidak ada yang benar, seorang pun tidak”. Kis 4:12 “Keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain dalam Dia (Yesus)”.
* Ayat-ayat ini sangat valid namun tidak bertentangan dengan kenyataan bahwa Maria "dibenarkan" (bukan "benar" dari dirinya sendiri, kemampuannya sendiri) oleh karena Yesus Puteranya. Justru karena jasa Kristus Yesuslah, Maria memperoleh keselamatan sejak dia dikandung.

Jumat, 09 September 2011

MARIOLOGI 3 : KENOSIS MARIA - MARIA REKAN PENEBUS




• Abad pertengahan : Bunda berduka cita (Mater Dolorosa)
• Sapta Duka Maria : (ada yang 9!)
1. Mendengar Nubuat Simeon: Suatu pedang…”
2. Melarikan kanak-kanak Yesus ke Mesir (Mat 2:13-15)
3. Jawaban Yesus saat diketemukan kembali : tidakkah kamu tahu…. (Luk 2:49)
4. Meratapi Yesus memanggul salib (Luk 23:27)
5. Memandang Yesus tergantung di salib (Yoh 19:25)
6. Menerima dan memeluk jenasah Yesus (Yoh 19:38)
7. Mengikuti penguburan Yesus (Yoh 19:41)
• Peran Maria dalam sejarah keselamatan (Hawa Baru) bukan peran yang mudah serta mengalir (takdir) saja – melainkan dengan melibatkan persetujuan bebas Maria. Dengan “fiat”nya (aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu) bukan sekedar YA atas berita kehamilan dan melahirkan Yesus saja (selesai) melainkan YA atas segala yang akan terjadi atas dirinya selanjutnya – yang dia sendiri tidak tahu. Jawaban YA Maria tidak hanya bagi dirinya sendiri melainkan Maria sebagai wakil umat manusia penerima keselamatan.
• Sebagai konsekuensi atas jawaban YA tersebut, Maria rela melakukan penghampaan diri (Kenosis) seturut penghampaan diri yang telah dilakukan Yesus hingga di jalan salibNya (bdk Flp 2:6-8)
• Maria secara aktif (tahu dan mau) menerima peran kenotisnya. Meski bagi Maria rencana Allah tidak semuanya jelas dari awal, namun dalam kegelapan iman itu Maria mempercayakan diri kepada Allah secara tak tergoncangkan.


A. Yesus dipersembahkan ke Kenisah – Kata-kata Simeon• Maria memenuhi hukum Allah: mempersembahkan putera sulung dan pemberian nama (sesuai pesan Malaikat)
• Kata-kata Simeon dengan tepat menyatakan :
– Misi yang akan diemban Yesus – bukan misi kemenangan melainkan menimbulkan “tanda perbantahan” bagi banyak orang.
– Peran Maria dalam misi itu : suatu pedang akan menembus hati Maria
• Apakah Maria memahami artinya? Belum. Dalam kegelapan imannya Maria “menyimpannya dalam hati dan merenungkannya” (symballein)
• Ketidaktahuan dan kegelapan bukan berarti meragukan melainkan justru Maria menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah.
B. Yesus Hilang dan Ditemukan di Kenisah
• Teks menyatakan “kecemasan orang tua Yesus”. Mereka “mencari” Yesus.
• Nilai utamanya bukan “dimana” Yesus melainkan “siapa” Yesus sebenarnya. Bukan karena Yesus ditemukan lagi di Kenisah melainkan menegaskan bahwa kedatangan Yesus adalah untuk melaksanakan kehendak BapaNya. “ tidaklah kamu tahu bahwa Aku ….”
• Hubungan Yesus – BapaNya ini melampaui daya tangkap Yusuf – Maria. Maria menyimpan semua perkara itu dalam hatinya. Kembali Maria dalam kegelapan imannya menghampakan diri dan berserah kepada Allah

C. Maria dan Salib Yesus• Hadirnya Maria dalam hidup Yesus merupakan suatu proses peziarahan iman. Dalam keseluruhan proses itu Maria terus menerus mengosongkan diri dan bergantung pada imannya. Hingga peristiwa di bawah salib pun bagi Maria mungkin hal tersebut berbeda dari pengertian dan harapannya, namun ia tetap setia, tetap mengosongkan dirinya, solider dengan Yesus yang tergantung di salib. Tidak ada tempat yang paling tepat (berat) namun mulia bagi kenotis Maria selain di bawah salib anaknya.
• Di bawah salib ini kesatuan batin antara Ibu dan Anak ditonjolkan sekali lagi dan mendapatkan peneguhannya.
• Peran serta Maria sepanjang jalan salib Yesus membuatnya digelari sebagai Bunda Penebus (Mater Redemptoris) dan Co-redemptrix (ko-penebus), Mediatrix (perantara) dan Advocate (pembela)- (KGK 969)
• Pemikiran ini telah ada sejak Bapa Gereja awali (terutama di timur) dan semakin subur pada abad pertengahan : Petrus damianus, Anselmus dari Canterbury, Bernardus dari Clairvaux, Albertus Magnus, Thomas Aquinas, Bonaventura dan Duns Scotus. Juga pengaruh para troubadour (penyair keliling).
• Saat itu pujian terhadap Maria sangat marak seperti Madonna, Notre-Dame, Unsere Liebe Frau

Maria Rekan Penebus (Co-Redemptrix)
• Titik tolak untuk memahami ajaran Maria sebagi Ko-redemptrix adalah ajaran tentang penebusan
• Penebusan Objektif : Karya penyelamatan Allah dalam diri Kristus sekali untuk selamanya.
• Penebusan Subjektif : penerimaan manusia atas penebusan objektif dalam iman (prinsip receptive) dan panggilan untuk berpartisipasi dalam kurban salib. Artinya setiap orang beriman dipanggil untuk menjadi ko-penebus (Princip Cooperative)
• Panggilan sebagai ko-penebus memang tidak menyumbangkan suatu pun bagi penebusan Yesus (final, lengkap, cukup, sekali untuk selamanya). Namun hanya dengan berpartisipasi pada karya penebusan itu, menerima dengan terbuka, membuka diri untuk rahmat– barulah rahmat penebusan itu bekerja efektif
• Terhadap Maria, panggilan untuk menjadi ko-penebus (penebusan subjektif) telah terjadi sebelum dan disaat jalan salib terlaksana - dan hingga selamanya :
– Konsepsi : Maria dikandung tanpa noda – adalah bagian dari anugerah penebusan objektif yang ditanggapinya (subjektif) dengan sangat terbuka memelihara keperawanannya sambil menantikan Mesias bersama umat pilihan lain.
– Anunsiasi : secara objektif dalam ruang dan waktu penebus dianugerahkan kepada rahimnya – dan maria dengan bebas, rela dan aktif (subjektif) menjawab dengan “fiat”nya. Jawaban “YA” Maria sangat menentukan bukan hanya untuk dirinya sendiri melainkan bagi seluruh umat manusia
– Peristiwa Golgota : saat anaknya tergantung disalib (penebusan objektif), Maria berdiri di kaki salib. Maria menanggapi secara pribadi penebusan itu dalam iman yang telah mendarah daging karena sejak awal keibuannya, Simeon telah meramalkan bahwa “suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri” (Luk 2:35) – dan dibawah salib semuanya itu menjadi jelas. Maria ikut serta dalam penderitaan Kristus sebagai socia passionis (teman sependeritaan). Dalam arti inilah kita Maria disebut Co-redemptrix. Dan karena peristiwa di bawah salib ini Maria digelari Ratu Para Martir, objek kemartirannya adalah kemartiran sang penebus sendiri. Tugas Maria sebagai ko-penebus ditentukan oleh kurban Kristus sendiri. (Bdk Ibu Martir Makabe!)
• Inilah puncak kenosis Maria (pengosongan diri) : berpartisipasi dalam misteri penebusan manusia. Maria sekaligus sebagai murid Yesus yang sempurna : Barang siapa mengikuti aku tetapi …. (Luk 14:27). Maria menjadi model kita dalam menghampakan diri untuk mengikuti Kristus.

MARIOLOGI 1 : SIAPA MARIA?


I. PENGANTAR MARIOLOGI

A. SUMBER
• Bagaimana Tradisi Katolik bisa berbicara begitu banyak tentang Maria? PB begitu sedikit berbicara tentang dia?
– Luk 1:26-38 : Maria diberi kabar oleh Malaikat Gabriel
– Luk 1:39-45 : Maria mengunjungi Elisabeth
– Luk 1:46-55 : Magnificat Maria
– Luk 2:1-5 : Maria dan Yoseph ke Bethlehem
– Luk 2 :6-20 ; Mat 1:18-25 : Kelahiran Yesus
– Luk 2:21-40 : Yesus dipersembahkan ke Bait Allah
– Yoh 2:1-11 : Perkawinan di Kana
– Yoh 19:25-27 (bdk. Mat 27:55-56; mrk 15:40-41) : Maria berdiri di kaki salib
– Kis 1:14 : Maria di tengah para murid (bdk Kis 2 : Pentakosta)
• Dari segi jumlah, cerita Alkitab secara khusus berkisah tentang Maria memang sangat sedikit. (152 ayat : Paulus 1 ayat, Lukas 89 ayat, Kis 1 ayat dan sisanya Matius, Markus, Yohanes). Dari segi mutu ibarat permata. Kecil tetapi luar biasa indahnya.
• Peran Maria telah dinubuatkan (dan dijejakkan) sejak lembar-lembar pertama Perjanjian Lama – hingga – lembar-lembar terakhir Perjanjian Baru. Ia hadir dalam janji Allah terhadap hawa, ibu dari semua yang hidup dan dengan “fiat”nya ia dilukiskan dalam kitab Wahyu sebagai tabut perjanjian, bejana pilihan yang mengandung Allah sendiri. Maria menjadi “kawan sekerja Allah” (1 Kor 3:9) untuk menebus anak-anak hawa, dengan membalikkan dosa hawa.
• Peran Maria : Terbentang sepanjang sejarah keselamatan.
– Maria merupakan bagian integral dari Wahyu Ilahi
– Maria terkait erat dengan Yesus dalam rencana ilahi, yaitu sebagai Bunda Allah Penyelamat
• Sehingga : Misteri dan Karya Kristus tidak dapat dimengerti tanpa Maria karena inkarnasi Sabda terjadi melalui Maria !
• Meski demikian : harus selalu diingat bahwa pada tempat pertama, gagasan-gagasan PL maupun PB adalah hendak menjelaskan Yesus sebagai penyelamat, bukan Maria. Karena itu Mariologis harus ditafsirkan dalam konteks Soteriologis!
• Ajaran tentang Maria tidak merampas kemuliaanNya melainkan memantulkannya (Maria cermin kekudusan). Sebagaimana Maria telah memberikan darah dan daging kepada Allah Putera, demikian ia memberikan darah dan daging kepada Gereja sepanjang segala masa.
• Ajaran Kristus bukan sekedar menghantar kita agar masuk surga dan terhindar dari neraka, melainkan lebih dari itu yaitu memungkinkan kita untuk membuat hidup sungguh bermakna.
B. PERSOALAN• Sejumlah umat Katolik tampaknya percaya akan apa yang diajarkan Gereja, tetapi tidak dengan serta merta mampu menjelaskan ajaran-ajaran.
• Kebencian anti-Katolik bahkan bagaikan Paulus ketika masih menjadi Saulus. Dan semoga mereka pun bertobat menjadi Paulus.

II. SIAPA MARIA ?• Injil hanya sebut Maria adalah tunangan Yosep yang adalah keturunan Daud. Tentang asal-usul Maria kita peroleh dari Injil apokrif proto Yakobus (sekitar abad II – bdk Luk 1:1-4)
• Maria anak dari Anna dan Yoakim dari Nazareth, suami istri yang sudah tua namun belum mempunyai anak. Keduanya terus berdoa agar bisa mempunyai anak dan mereka berjanji untuk mempersembahkannya bagi Allah.
• Karenanya ketika Maria lahir, sesuai dengan nazar, Maria dipersembahkan ke Kenisah melalui imam Zakharia, yang beristerikan Elisabeth keponakan Anna & Yoakim (sepupu Maria).
• Tak lama setelahnya kedua orang tua Maria wafat dan Maria diasuh oleh imam Zakharia dan Elisabeth, istrinya. Dan sesuai nazar dan pesan orang tua Maria, dia dipersiapkan untuk mengabdi kepada Allah. Umur Maria sekitar 2 tahun saat itu.
• Dan ketika berusia 12 tahun, Maria ditunangkan dengan Yoseph, tukang kayu keturunan Daud. Mengapa tidak dengan calon imam sehingga terwujud pesan orang tua Maria?
• Dikisahkan bahwa sebelumnya Zakharia mendapatkan petunjuk / tanda dari Allah untuk mempertunangkan Maria dengan Yoseph
• Awalnya Maria ragu, ketika dibawa Yoseph tunangannya yang bukan calon iman ke Nasareth. Namun Yoseph yang seorang tulus hati, seorang duda yang saleh sangat menghormati Maria dan menikahi Maria justru untuk melindungi niat Maria mengabdi kepada Allah. Mereka tinggal terpisah di Nazareth.
• Dalam adat Yahudi terdapat dua tahap pernikahan : Erusin dan Nisu’in. Erusin berarti bertunangan = janji resmi untuk menikah dihadapan saksi. Pelanggaran terhadap janji ini adalah zinah = hukuman rajam. Nisu’in = tahap pengantin pria membawa pengantin wanita ke rumahnya untuk hidup bersama.
• Maria hamil. Dan sesuai Ul 22:23-27 harus diketahui sebab kehamilannya. Apakah karena hubungan bebas dengan lelaki lain atau karena diperkosa. Yoseph sebenarnya berhak mengajukannya ke pengadilan, namun ia seorang yang “tulus hati dan tak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum” Tulus hati (dikaios).
• “Menceraikan dengan diam-diam” tanpa surat resmi pengadilan (Ul 24:1) tidak dibenarkan secara hukum. Untunglah malaikat datang menemui dia melalui mimpi.
• Mimpi sejak dulu dipercaya sebagai salah satu jalan komunikasi dengan dunia lain. Dan melelui mimpi Yusuf mendapatkan tugas perutusannya sebagai ayah hukum Yesus (memberi nama bdk Kej 17:19; 1Taw 22:9) sehingga Yesus masuk ke trah Daud.