Tampilkan postingan dengan label dogma. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dogma. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 September 2011

MARIOLOGI 7 : DOGMA MARIA DIANGKAT KE SURGA (MARIA ASUMPTA)



A. PENGANTAR

•       Paus Pius XII tanggal 1 November 1950, yang berjudul Munificentissimus Deus.

•        Dogma ini menjadi bahan cemoohan non-Katolik : Gereja Katolik menciptakan wahyu baru yang tidak berdasarkan Kitab Suci. Bagaimana menjawabnya :

–      Sumber Wahyu Ilahi bagi orang Katolik tidak melulu KS namun juga Tradisi Suci yang telah berakar dan tumbuh di dalam Gereja Katolik

–      Dogma adalah ajaran Magisterium atas penafsiran KS bukanlah suatu yang statis namun mengalami perkembangan (bdk DV 8)

–      Dogma bukan suatu ajaran baru muncul – melainkan menegaskan apa yang telah lama berurat berakar dalam iman umat (sensus fidelium) yang sehat. Maka jika Gereja Katolik mengumumkan suatu doktrin, itu sebenarnya hanya mengumumkan apa yang sudah lama diimani oleh Gereja, dan bukannya sesuatu yang baru tiba-tiba ditambahkan.

–      Mis. Ajaran Trinitas ditetapkan  pada Konsili Nicea (325): bukan berarti sebelumnya tidak dikenal. Tulisan-tulisan para Bapa Gereja menyaksikan berlimpahnya ajaran tentang Trinitas ini. Juga pada saat Gereja Katolik menetapkan Kanon KS pada Konsili Hippo (393) dan Konsili Carthage (397) bukan berarti Gereja Katolik baru ‘menciptakan’ Alkitab pada saat itu.

•       Dengan pengertian yang sama, Dogma Maria Dikandung Tanpa noda dan Dogma Maria Diangkat ke Surga merupakan pengajaran yang telah lama ada dan diimani oleh Gereja, yang nyata ada dalam tulisan para Bapa Gereja dan sudah berusia tua sekali, sejak abad 8 umat kristiani merayakan pesta Maria diangkat ke Surga.

•       Iman Gereja tentang pengangkatan Bunda Maria ke surga, telah lama berakar dalam Gereja.

•       Para pengajar  antara lain adalah: St. Yohanes Damaskus (676-754), St. Antonius Padua, (1195-1231), (1206-1280), St. Thomas Aquinas (1225-1274), St Albert Agung, St. Benardinus (1380-1404), St. Robertus Belarminus (1542-1621), St. St. Petrus Kanisius (1520-1597), Alphosus Liguori (1696-1787).

•       Konsep Maria diangkat ke surga juga diajarkan oleh Gereja Ortodoks Timur dan gereja Oriental dan Ortodoks Koptik, dikenal dengan nama Tidurnya Sang Theotokos. Dalam denominasi-denominasi yang merayakannya, peristiwa pengangkatan ke surga ini dirayakan tiap tanggal 15 Agustus, sebagai sebuah hari wajib suci dalam Gereja Katolik Roma.

•       Berikut ini adalah bunyi Dogma ini, "....divinitus revelatum dogma esse: Immaculatam Deiparam semper Virginem Mariam, expleto terrestris vitae cursu, fuisse corpore et anima ad caelestem gloriam assumptam.“ (MD 44) (terj bebas) "setelah menyelesaikan perjalanan hidup duniawinya, Santa Maria Perawan Maria Bunda Allah yang tak bernoda, diangkat tubuh dan jiwanya ke dalam kemuliaan surga."

•       Ditegaskan dalam LG 59 :”akhirnya Perawan yang tak bernoda, yang tidak pernah terkena oleh segala cemar dosa asal, sesudah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia ini, telah diangkat memasuki kemuliaan di surga beserta badan dan jiwanya. Ia telah ditinggikan oleh Tuhan sebagai Ratu alam semesta, Tuan atas segala tuan, yang telah mengalahkan dosa dan maut”

B. BAGAIMANA DOGMA INI DIJELASKAN?

•       Tempat Maria dalam sejarah keselamatan  adalah istimewa dan unik. Allah memberikan hak-hak istimewa kepada Bunda Maria karena ia harus mengandung Putera Allah. Hubungan antara anak dan ibu dalam kandungan sangat dekat – tak terpisahkan bahkan. Dan hal yang sama terjadi antara Yesus dan Maria. Maka sungguh masuk akal bahwa Allah menyediakan tempat/rahim yang suci tak ternoda oleh dosa asal maupun pribadi – karena Allah tidak bisa bersatu dengan dosa.

•       Maka bahwa jika untuk melahirkan Yesus, Maria disucikan dan dikandung tanpa noda dosa, dan selama hidupnya tidak berdosa maka selanjutnya,  setelah wafatnya, Tuhan tidak akan membiarkan tubuhnya terurai menjadi debu, karena penguraian menjadi debu ini adalah konsekuensi dari dosa manusia.

•       Menurut Paus Pius XII, Maria diangkat ke surga adalah konsekuensi dari ia dikandung tanpa noda: “dua previlege yang luar biasa ini diangugerahkan kepada Bunda Allah yang berada dalam cahaya cemerlang pada awal dan akhir hidupnya di dunia. Karena kemuliaan tubuhnya yang tetap perawan merupakan pelengkap sekaligus pantas serta mengagumkan, bagi kemurnian jiwanya yang bebas dari segala dosa… Ia mengambil bagian dalam kemuliaan kemenangan Kristus atas dosa dan akibat-akibat dosa yang menyedihkan”.

•       Dasar Biblis? Tentang pengangkatan manusia ke surga bukanlah hal baru. Henokh juga dikabarkan diangkat oleh Allah agar tidak mengalami kematian(bdk. Kej 5:24 – Ibr 11:5); juga Elia diangkat ke surga dengan kereta kuda berapi (2Rsaj 2:1-13). Tradisi Yahudi juga menganggap Musa terangkat ke surga karena tidak diketemukan kuburnya. Maria???

•       Maria adalah Tabut Perjanjian Baru yang dengan mengandung Yesus, ia menjadi tempat kediaman Sabda Allah yang menjadi manusia, Sang Roti, maka Bunda Maria mengalami persatuan dengan Yesus. Mzm 132:8, “Bangunlah ya Tuhan, dan pergilah ketempat perhentian-Mu, Engkau beserta tabut kekuatan-Mu.”

•       Bunda Maria ‘diangkat’ ke surga, dan bukan ‘naik’ ke surga. ‘Diangkat’ berarti bukan karena kekuatannya sendiri melainkan diangkat oleh kuasa Allah, sedangkan Yesus ‘naik’ ke surga oleh kekuatan-Nya sendiri.

•       Pengangkatan Maria ke surga sebagai pemenuhan janji Allah bahwa seorang perempuan (Maria) yang keturunannya (Yesus) akan menghancurkan Iblis dan kuasanya, yaitu maut (Kej 3:15); dan bahwa pengangkatan ini merupakan kemenangan atas dosa dan maut (Rm 5-6, 1Kor 15:21-26;54-57).

•       Maria sebagai ko-penebus layak menerima janji yang disebutkan oleh Rasul Paulus, “… jika kita menderita bersama-sama dengan Dia…kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” (Rom 8:17). Dan Maria adalah yang pertama menderita bersama Yesus dengan sempurna sehingga Yesus memenuhi janji-Nya ini dengan mengangkat Bunda Maria dengan sempurna, tubuh dan jiwa ke dalam kemuliaan surga, segera setelah wafat-Nya.

•       Dalam Maria janji Tuhan akan kebangkitan badan dipenuhi: kebangkitan jiwa dan badan para orang beriman pada akhir zaman. Oleh karena peran dan ketaatan-nya yang istimewa sebagai Ibu Tuhan dan hamba Allah, Bunda Maria diangkat ke surga, sebagai yang pertama dari anggota Gereja yang menerima janji itu sebagai teladan semua orang yang percaya kepada-Nya dan yang hidup melakukan kehendak-Nya (lih. Mrk 3:35).

•       Maka, Dogma Maria diangkat ke surga, bukan semata-mata doktrin untuk menghormati Maria, tetapi doktrin itu mau menunjukkan bahwa Maria adalah anggota Gereja yang pertama yang diangkat ke surga. Jika kita hidup setia melakukan perintah Allah dan bersatu dengan Kristus, seperti Bunda Maria, kitapun pada saat akhir jaman nanti akan diangkat ke surga, jiwa dan badan, seperti dia.

•       Dengan diangkatnya Bunda Maria ke surga, maka ia yang telah bersatu dengan Yesus akan menyertai kita yang masih berziarah di dunia ini dengan doa-doanya.

•       Pengangkatan Maria ke surga menjadikan peran kepengantaraan Maria terhadap segenap manusia menjadi efektif karena sebagai bunda yang berkuasa sebagaimana Yesus di sana sebagai Anak Allah yang berkuasa (Rm 1:4).

•       Setelah dogma ini diumumkan Paus Pius XII menetapkan pesta liturgis yang baru: Santa Perawan Maria Ratu – sebagai konsekuensi dogma tersebut dan sekaligus peneguhan tersirat terhadap keiikutsertaan Maria dalam karya penebusan.

•       Bagaimana konsep Ke-ratu-an Maria dipertanggungjawabkan secara bibilis?

C. BEBERAPA SOAL-JAWAB :

  1. Mengapa kamu percaya bahwa Maria dikandung tanpa noda? Apa jawab kita?

•       Kalau anda dapat menciptakan ibumu dan menjaganya dari segala kekotoran dan cela, apakah anda akan melakukannya? Tentu saja, anda akan melakukannya! Tetapi dapatkah anda melakukannya? Tidak! anda tidak dapat! Tetapi Yesus dapat, dan karena itu Yesus melakukannya!

ii. Apakah Bunda Maria meninggal atau tidak?

                Ada beda pandangan Maria meninggal atau tidak. Jika dikatakan tanpa dosa mengapa meninggal (upah dosa = maut!). Beberapa teolog (timur) meyakini Maria hanya tertidur – sedangkan yang lain menyatakan bahwa Maria bersatu erat dengan Yesus dan meninggal sebagai solidaritas kepada Puteranya yang Allah pun meninggal! Hanya saja, tubuh Maria dikatakan tidak membusuk dan diangkat jiwa dan badannya ke surga. Maria mengambil bagian dalam penderitaan, kematian dan kebangkitan Yesus secara penuh dan pertama.

iii. Jika diangkat jiwa dan “badan”nya maka Maria juga perlu makan dan minum?

                Menurut Yesus, di surga kelak manusia yang bangkit tidak kawin dan dikawinkan, melainkan hidup seperti malaikat (Mat 22:30) – karenanya juga/ tidak perlu makan dan minum seperti di dunia. Atau lebih tepatnya bahwa persoalan semacam itu tidak lagi berarti melainkan ‘pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi’ (Kol 3:2)

iv. Di mana Maria meninggal / diangkat ke Surga?

•       Setelah penyaliban, Yesus menyerahkan Maria kepada Yohanes (Yoh 19:26-27). Tulisan jemaat perdana mengatakan bahwa setelah itu Yohanes dan Maria tinggal di Efesus. Ada beberapa perbedebatan dimana hidup terakhir Maria : di Efesus atau kembali ke Jerusalem. Baik kedua kota itu maupun kota lain tak ada yang mengatakan menyimpan jenasahnya. Kita tidak mempunyai catatan tentang penghormatan relikui Maria

v. Dimana Yoseph waktu Maria diangkat ke surga? Masih hidup atau sudah mati?

•       Dari Mat 13:55 dan Mrk 6:3 disimpulkan bahwa Yoseph telah meninggal. Saat Yesus pulang kampung, orang-orang Nasareth menolak Yesus karena mengenal siapa Yesus : anak Maria (Mark), anak tukang kayu yang ibunya bernama Maria (Mat). Nama Yoseph tidak disebut-sebut. Rupanya ia telah lama meninggal dan orang hanya ingat nama ibuNya padahal budaya Yahudi lebih menekankan nama ayah (bdk. Nama para rasul yang dikaitkan dengan nama ayah mereka : Yakobus dan Yohanes anak Zebedeus)

MARIOLOGI 6 : DOGMA MARIA IMMACULATA CONCEPTIO




A. PENGANTAR
• Dogma ini dinyatakan Oleh Paus Pius IX Ineffabilis Deus, pada tanggal 8 Desember 1854 : Sesungguhnya, dogma SP Maria Tanpa Noda Dosa adalah keyakinan “… bahwa perawan tersuci Maria sejak saat pertama perkandungannya oleh rahmat yang luar biasa dan oleh pilihan Allah yang mahakuasa karena pahala Yesus Kristus, Penebus umat manusia, telah dibebaskan dari segala noda dosa asal”(Paus Pius IX, Ineffabilis Deus).
• Jauh sebelumnya Pesta Maria Dikandung Tanpa Noda tanggal 8 Desember dimulai tahun 1476 oleh Paus Siktus IV. Ia tidak membuat doktrin tersebut sebagai sebuah dogma sehingga membiarkan umat Katolik Roma untuk bisa percaya atau tidak tanpa risiko dituduh menentang ajaran gereja. Kebebasan ini ditegaskan sekali lagi oleh Konsili Trento. Keberadaan pesta perayaan ini adalah sebuah tanda kuat mengenai kepercayaan Gereja atas Maria Dikandung Tanpa Noda, bahkan jauh sebelum peresmiannya sebagai sebuah dogma di abad ke-19.
• Dalam hal ini, dogma ini juga dipandang sebagai sebuah contoh penting dari penggunaan sensus fidelium yang berkembang di tengah-tengah umat dan Magisterium, tidak hanya bersandar sepenuhnya pada Kitab Suci dan tradisi.
• Meski demikian Gereja percaya bahwa dogma ini didukung oleh Kitab Suci dan oleh tulisan Bapa-bapa Gereja serta oleh logika akal budi : oleh karena Yesus menjadi daging di dalam tubuh Sang Perawan Maria, adalah suatu hal yang masuk akal apabila Maria bebas dari segala dosa, untuk menyiapkan tempat yang layak bagi Putera Allah dan Maria sendiri bisa menyatakan penyerahan dirinya atas kehendak Ilahi. Karena pentingnya peran Maria, maka Allah (berhak) membuat pengecualian untuk Maria.

B. LATAR BELAKANG DOGMA
• Tahun 1849, Pius IX meminta pendapat para uskup di seluruh Gereja mengenai apa yang mereka sendiri, para klerus, dan umat rasakan mengenai keyakinan ini dan apakah mereka menghendakinya agar ditetapkan secara resmi. Dari 603 uskup, 546 memberikan tanggapan positif tanpa ragu. Dari mereka yang menentang, hanya lima yang mengatakan bahwa doktrin tersebut tidak dapat ditegaskan secara resmi, 24 tidak tahu apakah ini adalah saat yang tepat, dan 10 menghendaki agar mereka yang menentang doktrin tersebut dinyatakan salah.
• Paus Pius juga melihat kelesuan rohani dalam dunia dimana kaum rasionalis telah menyangkal kebenaran dan segala sesuatu yang adikodrati, di mana revolusi-revolusi sosial mengakibatkan gejolak dalam masyarakat, dan revolusi industri mengancam martabat para pekerja dan kehidupan keluarga.
• Oleh sebab itu, Paus Pius menghendaki dibangkitkannya kembali kehidupan rohani umat beriman dan beliau melihat tidak ada cara yang lebih baik selain dari menampilkan kembali teladan indah Bunda Maria dan perannya dalam sejarah keselamatan.
• Menarik juga disimak bahwa dalam beberapa penampakan, Santa Perawan sendiri menegaskan dogma itu.
– Pada tanggal 9 Desember (tanggal yang ditetapkan sebagai Perayaan SP Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa di Kerajaan Spanyol) 1531 di Guadalupe, Bunda Maria mengatakan kepada Juan Diego, “Akulah Perawan Maria yang tak bercela, Bunda dari Allah yang benar, yang melalui-Nya segala sesuatu hidup…”
– Tahun 1830, Bunda Maria mengatakan kepada St. Katarina Laboure agar dibuat Medali Wasiat dengan tulisan, “O Maria sinelabe originali concepta, intersede pro nobis, qui ad te confugimus”
– Terakhir, ketika menampakkan diri kepada St. Bernadete di Lourdes pada tahun 1858, Bunda Maria mengatakan, “Akulah yang Dikandung Tanpa Noda Dosa.”

C. SALAH PAHAM TENTANG DOGMA INI
• Sangkaan non Katolik : Dogma Maria Imaculata mengacu pada awal kehidupan Yesus dalam rahim Maria. Padahal lebih jauh dari itu, yaitu pada sejak awal Maria dikandung oleh ibunya: St. Anna, ia telah bebas dari dosa asal dan segala pengaruhnya.
• Sangkaan lainnya (kadang dari Katolik!) yang sebenarnya berkait dengan sangkaan sebelumnya bahwa Maria ditebus bukan oleh Yesus melainkan oleh Allah sendiri, karena saat Maria dikandung Yesus belum lahir

D. DASAR BIBLIS


i. Luk 1:28 "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau”.
• Kesaksian Gabriel secara pasti menyatakan kekudusan Bunda Maria yang luar biasa. “Engkau yang dikaruniai (kechariotomene)” menurut Origenes, sebutan ini tak pernah diberikan kepada orang lain kecuali Maria!
• Maria dikaruniai dengan anugerah tak terhingga yaitu Yesus sendiri
• Gabriel tidak menyapa Maria dengan namanya, melainkan dengan nama barunya, hakekatnya : penuh rahmat – itulah namanya yang sebenarnya (Paus Yohanes Paulus II, ensiklik RMT – Maria Bunda Penebus 1986)
• Beberapa exeget keberatan dengan terjemahan vulgata : kecharitomene ; terjemahan yang lebih tepat untuk frasa itu adalah pleres charitos, yang digunakan juga dalam Yoh 1:14 dan oleh Stefanus dalam Kis 6:8.
• Dalam terjemahan Luk 1:28 versi Inggris lebih beragam :
– New Jerusalem Bible : “Berbahagialah engkau yang diberkati Tuhan! Tuhan menyertai engkau”
– New Amerrican Bible : “berbahagialah engkau o puteri yang penuh rahmat! Tuhan menyertai engkau”
• Mengapa keberatan? Kerena terjemahan yang tidak tepat itu memberikan kesan bahwa rahmat yang diberikan kepada Maria tidak berbeda kepada wanita-wanita lain dalam KS. Jika dia hanya penuh rahmat dalam konotasi biasa maka ia tidak berbeda dengan Elisabeth/Sara/ Hana. Mereka semua mandul dan memperoleh “rahmat”.
• Sementara Rahmat / karunia yang diterima Maria adalah anugerah tak terhingga yaitu Yesus sendiri. Rahmat yang penuh, kuat, dan lengkap. Keadaan berahmat itu bukan melulu saat disampaikan Gabriel melainkan sejak Maria dikandung dan sepanjang hidupnya.

ii. Penggenapan Kej 3:15 : Maria Hawa Baru – Maria Tabut Perjanjian Baru (lihat uraian tipologis)
– Maria adalah “perempuan” yang dimaksud dalam Kej 3:15; Yoh 2:4; 19:26; Why 12:17.
– Maria disiapkan sebagai Tempat Kudus bagi Sang Putera : gelar Maria sebagai bejana rohani, Tabut Perjanjian, dsb.

E. AJARAN BAPA GEREJA
• Pengarang pertama ajaran ketidakberdosaan Maria adalah Pellagius dan diteguhkan Agustinus (aneh : dalam soteriologi mereka sangat berseberangan – perlunya rahmat!)
• Di timur : St. Efraim mengubah syair tentang Maria tanpa cela. Andreas dari Kreta dan Yohanes dari Damsyik
• Di barat mengalami kemandekan : ajaran Agustinus juga bahwa semua orang butuh penebusan Kristus karena semua orang berdosa (asal) yang diwariskan secara turun – ketegangan antara kebutuhan umum akan penebusan dan kebebasan Maria dari dosa asal.
• Meski demikian Greg. Nazianse (390), Greg. Nysaa (395), Sophronius (638), Joh. Damaskus (749) tetap mengajarkan Marai terlindungi dari dosa asal.
• Baru abad 13-14 oleh Yohanes Duns Scotus (Doktor mengenai Maria) ajaran redemptio praeservativa di ajarkan.

F. REDEMPTIO PRESERVATIVA Duns Scotus (1308)
• Kekudusan Maria adalah Karya Yesus. Di antara semua perempuan, hanya Maria yang puteranya ada sebelum ia ada. Penghormatan Yesus terhadap Maria tidak menunggu sampai Ia menjelma melainkan sejak awal mula pula. Allah tidak terikat ruang dan waktu, perkara “sebelum” dan “sesudah” tidak berlaku bagiNya
• Sejak Maria dikandung, Karya Penyelamatan Yesus telah bekerja. Maria diselamatkan Yesus dengan cara yang khas dan unik.
• Illustrasi : menyelamatkan anak dari tenggelam
• Kita diselamatkan Yesus dengan cara ditarik keluar dari kubangan dosa (redemptio restorativa), sedangkan Maria diselamatkan Yesus dengan dijaga sedemikian rupa (redemptio praeservativa) sehingga Maria tidak pernah jatuh sama sekali dalam dosa.
• Ajaran ini ditentang kaum makulanis (makula = dosa) hingga tahun 1477 Paus Sixtus IV menegaskannya sebagai ajaran Gereja.
• Konsili Trente (1546) menerangkan bahwa konsili tidak melibatkan Maria dalam universalitas dosa asal (dikecualikan)
• Ajaran serupa ditegaskan oleh Paus Alexander VIII (1690) dalam rangka melawan Jansenisme.
• Hingga akhirnya ajaran ini ditetapkan sebagai dogma oleh Paus Pius IX (1854)
• “Bahwa Maria `sejak saat pertama ia dikandung, dikarunia cahaya kekudusan yang istimewa', hanya terjadi berkat jasa Kristus: `Karena pahala Puteranya, ia ditebus secara lebih unggul'” (KGK 492).
• “Tidak mengherankan bahwa di antara para Bapa Suci menjadi lazim untuk menyebut Bunda Allah suci seutuhnya dan tidak terkena oleh cemar dosa mana pun juga, bagaikan mahluk yang diciptakan dan dibentuk oleh RK. Perawan dari Nazareth itu sejak saat pertama dalam rahim dikurniai dengan semarak kesucian yang sangat istimewa” (LG 56)
• Dogma Maria Imaculata sekaligus merupakan refleksi atas rencana semula Allah menciptakan manusia dalam keadaan rahmat (suci) dan bebas dari dosa, sepert Adam dan Hawa di Firdaus.

G. MENGAPA HARUS DEMIKIAN? SOAL-JAWAB

i. Luk 1:47 "Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku." Mengapa Maria memerlukan seorang Juruselamat, tanya mereka, jika ia tanpa noda dosa?
• Maria benar, dia juga membutuhkan penyelamat! Sebagaimana keturunan Adam lainnya, dari kodratnya Maria tetap membutuhkan penyelamat, namun campur tangan Allah yang istimewa membuat dia terhindar dari hal dosa (redemptio praeservativa), Maria diselamatkan oleh Kristus. Karenanya dogma ini tidak bertentangan dengan Luk 1:28

ii. Tapi mengapa dia menyebut dirinya rendah (Luk 1:48)? Bukankah dia menyadari diri sebagai “tidak pantas”?
• Siapa yang bisa merasa “tinggi” jika berhadapan dengan Allah? Dibandingkan dengan Allah, semua ciptaan, tidak peduli betapapun sempurnanya adalah rendah, termasuk Maria.
• Dosa bukanlah satu-satunya penyebab kerendahan.

iii. Bagaimana dengan Rm 3:23 “semua orang telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah”. Rm 3:10 “tidak ada yang benar, seorang pun tidak”. Kis 4:12 “Keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain dalam Dia (Yesus)”.
* Ayat-ayat ini sangat valid namun tidak bertentangan dengan kenyataan bahwa Maria "dibenarkan" (bukan "benar" dari dirinya sendiri, kemampuannya sendiri) oleh karena Yesus Puteranya. Justru karena jasa Kristus Yesuslah, Maria memperoleh keselamatan sejak dia dikandung.

Jumat, 09 September 2011

MARIOLOGI 5 : DOGMA MARIA TETAP PERAWAN (SEMPER VIRGO / AEI PARTHENOS)





A. AJARAN GEREJA KATOLIK :
– Maria Perawan sebelum (virginitas ante partum) , saat (virginitas in partu) dan setelah melahirkan (virginitas post partum) Yesus. Kelahiran Yesus tidak menghilangkan keperawanannya melainkan bahkan menguduskannya (bkd LG 57 & 59)
– Keperawanan Maria adalah menyangkut disposisi (sikap mental) kesucian perawan baik secara fisik maupun spiritual.
– Keperawanan fisik Maria harus dilihat sebagai simbol dan ungkapan keperawanan spiritual karena raga adalah ungkapan dari pribadi (KGK 364).
• Gelar Maria Tetap Perawan diberikan pada Konsili Konstantinopel II (553) - Ajaran Keperawanan Abadi Maria ditetapkan dalam konsili Lateran (649 – bukan konsili umum). Dan ditegaskan lagi pada Konsili Ekumenis Konstantinopel III (681). Hanya keperawanan sebelum dan setelah melahirkan yang diyatakan secara resmi sebagai dogma – sedangkan mengenai keperawanan in partu tidak ada definisi formal sehingga pernyataan tentangnya bukan infalibel (Wolfgang Beinert : bisa menjadi ancaman akan gugatan kemanusiaan Kristus yang serius!)
• Kebenaran ini dikukuhkan kembali berabad-abad setelahnya hingga dalam dalam KV II – LG 52, 57 serta KGK
• Dogma ini berakar kuat dalam terang Tradisi – yang Biblis dan dijelaskan oleh otoritas ajaran Magisterium (lihat pembahasan : Tradisi – Kitab Suci dan Magisterium)
• Apa arti keperawanan?

B. ARTI KEPERAWANAN MARIA

1. Keperawanan Maria Sebelum Kelahiran Yesus (Virginitas ante partum)
i. DASAR BIBILIS Mat 1:18-25 ; Luk 1:26-35
• Matius : pengandungan perawan sebagai penggenapan Yesaya 7:14 Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.
• Lukas dalam perikop ini dua kali menyebut “perawan”. Namun yang paling penting adalah ayat 34-35. Di sana Maria menanyakan bagaimana ia akan mengandung.
• Jawaban Maria kepada Gabriel : “Bagaimana hal itu mungkin terjadi karena aku TIDAK MENGENAL suami / lelaki” (Luk 1:34 – LAI : “belum bersuami”)
• Perlu dicermati konteksnya bahwa saat itu Maria belum mengandung. Luk 1:31 “Sesungguhnya engkau AKAN mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus”
• Dengan kabar Gabriel, Maria bisa saja menafsirkan bahwa setelah dia menikah dengan Yusuf, dia akan punya anak seperti Gabriel bilang. “Engkau akan mengandung..” Jawaban Maria seolah dia tidak dalam posisi telah / sedang bertunangan dan akan segera menikah dengan Yusuf, melainkan seolah dia memang dalam posisi yang tidak (akan) mengenal laki-laki.
• “Belum mengenal” suami berarti bersetubuh dengan suami. Jawaban Maria seolah dia tidak ada minat/rencana untuk bersetubuh kelak. Bagaimana mungkin jika ia telah bertunangan dan siap menikah namun tidak berkeinginan akan mempunyai anak / bersetubuh?
• Ada sementara jawaban : Maria berkaul pribadi untuk menjadi perawan seumur hidup. Apokrif Proto Injil Yakobus (protoevangelium Yaskobus – th 150-an) : perkawinan Yusuf-Maria sekedar melindungi Maria yang ingin tetap perawan karena bagi Yahudi, wanita tidak menikah adalah suatu yang aneh.
• Kekecewaan Yusuf bukan karena Maria mengandung, melainkan karena ia mengira Maria mengingkari kaul keperawanannya sendiri. Sehingga diam-diam ia akan menceraikannya.
• Maria berkaul perawan karena ingin menyerahkan diri secara utuh kepada Tuhan, sebagaimana disaksikan oleh Paulus 1Kor 7:34 : dan dengan demikian perhatiannya terbagi-bagi. Perempuan yang tidak bersuami dan anak-anak gadis memusatkan perhatian mereka pada perkara Tuhan, supaya tubuh dan jiwa mereka kudus. Tetapi perempuan yang bersuami memusatkan perhatiannya pada perkara duniawi, bagaimana ia dapat menyenangkan suaminya.
• Jawaban Gabriel: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau…. (Luk 1:35) menyatakan bahwa Maria mengandung Yesus tanpa kehilangan keperawanannya karena RK yang turun dan menaunginya – bukan karena seorang suami manusiawi
• Gereja menafsirkan Yes 7:14: nubuat pengandungan perawan Kristus dalam rahim Maria. Terjemahan kata Ibr. alma = dara/gadis : perempuan yang tak tersentuh oleh hubungan perkawinan ; dengan kata Yun parthernos = perawan (LXX).
• Penolakan atas terjemahan ini: mengkaitkan dengan budaya modern: tidak menikah tidak berarti perawan. Hal ini agaknya sama sekali membabi buta.
• Hal lain yang dipermasalahkan : mengapa tidak disebut-sebut lagi dalam PB, juga oleh tulisan tertua : Markus dan Surat-surat Paulus : shg dianggap belum dikenal oleh generasi pertama.
• Menjawab hal ini ditegaskan :
• Sumber Wahyu : Tradisi – KS - Magisterium
• Tidak disebut namun tidak bertentangan.
• Tujuan penulisan Markus dan Surat-surat Paulus
• KGK 498 : Kadang umat bingung karena pengandungan perawan Maria tidak disebut dalam Injil Markus dan surat-surat PB. Sejumlah orang bertanya-tanya jangan-jangan kita hanya berurusan dengan legenda atau rekayasa teologis yang tidak historis.
• Terhadap pertanyaan ini kita harus menjawab : Iman akan pengandungan keperawanan telah menghadapi perlawanan gencar, ejekan dan salah pengertian dari orang tak beriman, baik Yahudi maupun kafir; maka hampir tidak mungkin hal itu didorong oleh mitologi kafir atau oleh penyesuaian tertentu dengan gagasan-gagasan jaman itu. Makna kejadian ini hanya dapat ditangkap dengan iman, yang melihatnya “atas dasar kaitan misteri-misteri itu satu sama lain”…. St. Ign Antiokhia telah memberikan kesaksian tentang hubungan ini : “keperawanan Maria dan persalinannya, bahkan juga kematian Tuhan tidak dimengerti oleh penguasa dunia ini. Ketiga misteri yang pantas dimaklumkan ini digenapi dalam diam-Nya Allah.

ii. Ajaran Bapa Gereja
• Sejak peralihan abad II (St. Ign. Antiokhia) ajaran pengandungan perawan telah tampak pada doa-doa liturgi.
• Gelar Maria tetap perawan diberikan pada Konsili Ekumenis Konstantinopel II (553) - Ajaran Keperawanan Abadi Maria ditetapkan dalam konsili Lateran (649 – bukan konsili umum) : Para bapa Kudus mengakui bahwa Maria yang kudus dan tetap perawan dan tak bernoda sungguh-sungguh dan benar-benar Bunda Allah, yang dalam kegenapan waktu, tanpa benih laki-laki, tetapi berkat RK allah, mengandung Sang Sabda sendiri, yang sebelum segala sesuatu telah lahir dari Allah Bapa, dan tanpa kehilangan keperawanannya melahirkan Dia, dan sesudah kelahiranNya tetap menjaga keperawanannya tak ternodai; siapa saja yang tidak sepakat dengan ajaran ini, terkutuklah dia
• Dan ditegaskan lagi pada Konsili Ekumenis Konstantinopel III (681)

2. Keperawanan Maria Sewaktu Melahirkan (Virgintas In Partu)

i. Iman Gereja Tradisional:
• Sewaktu melahirkan Yesus, Maria tidak mengalami kerusakan pada tanda fisik keperawanannya dan tidak mengalami sakit bersalin (mis. Pendarahan, dsb) yang selalu terjadi dalam proses melahirkan setelah Hawa jatuh dalam dosa (Katekismus konsili Trente)
• “Kelahiran ajaib” ini berkaitan dengan peran Maria dalam penciptaan baru, dengan pengandungannya yang tak bernoda, dan dengan kenaikannya ke surga.
• Keutuhan fisik ini tidak hanya menunjukkan tidak adanya hubungan seksual, melainkan juga merupakan tanda keperawanan batiniah Maria.
“Persatuan maria dengan Puteranya dalam karya penyelamatan itu terungkap sejak saat Kristus dikandung oleh Santa Perawan hingga wafat-Nya…. Kemudian pada kelahiran Yesus, yang tidak mengurangi keutuhan keperawanannya, melainkan justru menyucikannya” (LG 57)

ii. Dasar Biblis
• KS tidak menjelaskan apapun tentang cara Yesus lahir
• Matius 1:22-23 secara eksplisit merefer Yes 1:14 tentang keperawanan yang mengandung dan melahirkan. Dan ini menjadi penafsiran para Bapa gereja awali (terutama St. Ambrosius) tentang keperawan ante & post partum.
• Ajaran ini diambil alih oleh Sinode Milan 390 dan mendasari tulisan St. Pius Agung (400-461) : Yesus dilahirkan dalam suatu pola “kelahiran baru” yakni dalam keperawanan yang tidak dirusakkan dan tidak mengalami gairah nafsu, tetapi sungguh memberikan bahan untuk suatu tubuh… Tuhan Yesus kristus yang lahir dari seorang perawan, memiliki kodrat insani yang tidak berbeda dari kodrat kita meski pun kelahiranNya bukanlah kelahiran yang lazim”.

iii. Ajaran Bapa Gereja
• St. Ambrosius memberikan beberapa gambaran biblis PL tentang keperawanan in partum : Yehezhiel 44:2 (gelar: Maria “pintu gerbang yang tetap tertutup”); Yesaya 66:7 kelahiran bayi tanpa rasa sakit bersalin;
• Beato Thomas Villanova (dkk) : gambaran Maria dalam semak yang dilihat Musa: menyala namun tak terbakar.
• St. Efrem dari Suriah (timur 373) : Emanuel mampu “membuka rahim” Maria tanpa merusak keperawanannya.
• St. Efrem, St. Hieronimus & St. Agustinus (terutama) memberikan gambaran keperawanan in partu Maria bagaikan Yesus yang telah bangkit mampu memasuki ruangan meski pintu tertutup (Yoh 20:19)

3. Keperawanan Maria Setelah Melahirkan (Virginitas Post Partum)
• Keperawanan Maria post partum berarti Maria tetap seorang perawan, tidak melakukan hubungan seks dan karenanya tidak mempunyai anak lain setelah melahirkan Yesus.
• Tipologis keutuhan keperawanan Maria digambarkan oleh perawan bumi yang melahirkan Adam, semak menyala yang tak terbakar, pintu kanisah yang tertutup rapat, mata air yang disegel, dll
• Keberatan :– Tidak terdapat dalam Kitab Suci (Penyempitan Wahyu Ilahi) – lihat uraian tentang KS – Tradisi – Magisterium
– Beberapa Teks KS justru berbicara sebaliknya

i. SAUDARA-SAUDARI YESUS

• Teks Tentang “Saudara”
Mat 13 :55 “Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas”
Mrk 3:31 “Lalu datanglah ibu dan saudara-saudara Yesus. Sementara mereka berdiri di luar, mereka menyuruh orang memanggil Dia”
Gal 1:19 “Tetapi aku tidak melihat seorang pun dari rasul-rasul yang lain, kecuali Yakobus, saudara Tuhan Yesus”.
• Kesimpulan sesaat : Yesus punya saudara/i, so Maria tidaklah selalu perawan (semper virgo) sebab ia telah melahirkan anak-anak lain selain Yesus.
• Mari melihat KS lebih dalam :
Saudara/i - Ibr. Akh ; Yun. Adelphos/i = keluar dari rahim
• Arti bisa luas – bisa sempit
– Saudara Kandung (Kain – Abil Kej 4:2 dst)
– Saudara Tiri (raja Filipus = suadara (tiri) raja Herodes – Mrk 6:17-18)
– Sanak keluarga / kerabat (mis. Kej 13:8 Abr – Lot “kita ini saudara” – LAI “Kita ini kerabat”)
• Apokrif Protoevangelium Yakobus (th 150) : yang dimaksud dengan saudara-saudara Yesus adalah anak-anak Yusuf dari perkawinan sebelumnya – bukan saudara kandung. Tafsiran ini disaksikan juga oleh St. Hieronimus
• Mari melihat KS lebih dalam :
Saudara/i - Ibr. Akh ; Yun. Adelphos/i = keluar dari rahim
• Arti bisa luas – bisa sempit
– Saudara Kandung (Kain – Abil Kej 4:2 dst)
– Saudara Tiri (raja Filipus = suadara (tiri) raja Herodes – Mrk 6:17-18)
– Sanak keluarga / kerabat (mis. Kej 13:8 Abr – Lot “kita ini saudara” – LAI “Kita ini kerabat”)
• Apokrif Protoevangelium Yakobus (th 150) : yang dimaksud dengan saudara-saudara Yesus adalah anak-anak Yusuf dari perkawinan sebelumnya – bukan saudara kandung. Tafsiran ini disaksikan juga oleh St. Hieronimus
• Arti saudara/i di sini bisa berarti sepupu Yesus (anak saudari Maria, Yoh 19:25) atau pun saudara tiri. Siapa persisnya tidak kita ketahui – yang jelas tidak harus berarti saudara kandung. Bahasa Ibrani tidak punya kosa kata untuk saudara sepupu. Dalam bahasa Yunani ada, namun oleh LXX diterjemahkan apa adanya dari Ibrani.
• Jika dilihat dengan cermat makin jelas bahwa dua dari empat saudara Yesus yang disebut dalam Mat 13:55 itu memiliki ibu yang berbeda (Bdk Mat 27:56 – KGK 500) dan sepertinya lebih tua dari Yesus (bdk. Mat 1:18-25; Luk 1:26-38; 2:27). Mereka anak Maria bukan ibu Yesus. Nama Maria cukup digemari bagi perempuan saat itu! Dan hanya Yesus yang selalu disebut anak Maria.
• Dengan perikop itu ada yang (tanpa sadar) menuduh Yesus telah meremehkan ikatan darah (termasuk kebundaan Maria) – dengan dalih memenuhi kehendak Bapa.
• Penafsiran Teks : yang melaksanakan sabda Allah : Justru Maria dua-duanya. Bukan hanya biologis tetapi juga karena melaksanakan SA. Maria justru orang yang paling memenuhi syarat untuk disebut Ibu Yesus!
• Juga dalam Luk 11:27-28 “rahim…. Susu…”
• Siapa dalam Injil orang yang melebih Maria dalam hal mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya? Luk 1:38 “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu”. Coba taruh ayat ini tepat di bawah Mrk 3:35 atau Luk 11:28 …..
• Yoh 19:25-27 : Yesus serahkan Maria kepada Yohanes. Seandainya Yesus punya banyak saudara/i (kandung) maka aneh jika Ia repot-repot serahkan ibu-Nya kepada muridNya. (argumen ini sejak abad III)

ii. Mat 1:25 “ tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus”• Seolah : setelah melahirkan Yesus, Maria bersetubuh dengan Yusuf dan melahirkan banyak anak (Bdk Mat 12:46; 13:55). Maria tetap perawan hanya sampai kelahiran Yesus saja – benarkah demikian ?
• Mari KS melihat lebih dalam :
Tujuan utama ayat tsb : menekankan bahwa Yesus dikandung bukan dari benih laki-laki ; tidak ada campur tangan Yusuf dalam proses penjelmaan Allah menjadi manusia melalui rahim Maria.
• Kata “sampai” tidak selalu berarti “sesudahnya”
• Ayat ini hanya mengatakan bahwa sampai waktu tertentu persetubuhan tidak dilakukan – TETAPI JUGA TIDAK BERBICARA tentang adanya persetubuhan SESUDAH KELAHIRAN Yesus.
• Hieronimus: Model penuturan seperti itu sangat biasa dalam KS :
– 2 Sam 6:23 “Mikhal binti Saul tidak mendapat anak sampai hari matinya” – setelah mati pun juga tetap tidak punya anak!
– Kej 35:4; Ul 34:34:5-6; mzm 123:2; Yes 46:4; Mat 28:20; dan 1Kor 15:23-26
– Kata “sampai” di sini bisa diterjemahkan lain : lihatlah! (masukkan dalam kalimat – bahkan lebih sesuai dengan konteks penekanan maksud utama ayat tsb)
• Juga terjemahan ay 25 yang lain :”Ia tidak mengenal dia ketika ia melahirkan seorang anak laki-laki… (terj. Knox)

iii. Lukas menyebut bahwa Yesus adalah anak sulung (Luk 2:7)
• Tidak ada satu tempat pun dalam PB dimana Maria pernah disebut sebagai ibu dari seseorang selain Yesus
• St. Heironimus : Prototokos kadang = monogenes :“setiap anak tunggal adalah anak sulung; tetapi tidak setiap anak sulung adalah anak tunggal. Anak sulung tidak hanya berarti bahwa sesudah dia masih dilahirkan anak-anak lain, tetapi juga berarti bahwa sebelum dia tidak ada anak yang dilahirkan”
• Lebih lanjut : kebiasaan Yahudi untuk mempersembahkan kurban pada saat kelahiran anak sulung tanpa menunggu sampai anak berikutnya lahir. (Kel 13:1-2)

iv. Budaya Yahudi
• Keperawanan tabu bagi wanita Yahudi PL (bdk Hak 11:38-39 anak Yefta yang dikurbankan ayahnya sebelum sempat menikah… menangisi keperawanannya)
• Latar belakang Yahudi bukan jawaban akhir. KS PB menampilkan banyak surprise : Yesus – Paulus tidak menikah. Perkawinan Maria-Joseph unik. Keperawanan ini rupanya justru menjadi model pengabdian sebagaimana yang disaksikan paulus dalam 1 Kor…
• Maria-Yusuf tidak sungguh menikah? Paus Yohanes Paulus II, Surat Apostolis: redemptoris Custos (1989) art 7 : Yusuf-Maria sungguh menikah! Perkawinan mencakup unsur pemberian diri timbal balik, tanpa syarat, yang bisa diungkapkan secara fisik namun tidak harus. Orang bisa mempunyai hak tanpa menggunakannya. Persetujuan menikah, tanpa hubungan seksual adalah unsur “tak terpisahkan yang membuat sahnya perkawinan” (KGK 1626)

V. Mengapa Yesus disebut keturunan Daud, padahal Maria mengadung dari RK?• Bagi orang Yahudi, garis keturunan menurut hukum adalah yang sangat penting. Yesus adalah keturunan Daud – karena Yusuf sebagai suami Maria dan ayah yuridis Yesus adalah keturunan Daud (bdk Mat 1:1-dst)

MARIOLOGI 4 : DOGMA MARIA BUNDA ALLAH


DOGMA MARIA MATER DEI / THEOTOKOS
A. MARIA BUNDA ALLAH = KRISTOLOGI!
• Merupakan dogma pertama tentang Maria – oleh Konsili Efesus (431) – dalam kerangka Kristologis melawan para bidaah Gnosis (doketisme) dan Nestorianisme. Mariologi diturunkan dari Kristologi.
• Gelar ini sebelumnya telah digunakan oleh Alexander dari Alexandria (325).
• Dengan gelar ini tekanan utama justru pada siapa Yesus yang adalah satu pribadi dua kodrat (Unio hypostateis – communicatio idiomatum).
• Kesatuan pribadi Kristus memungkinkan kita untuk menerapkan padaNya kodrat ilahi dipandang dari sisi insani dan sebaliknya: misal ungkapan Putera Allah mati disalib ; Yesus anak Maria dari Nazaret turun ke dunia orang mati.
• Demikian pula terhadap Maria sebagai Bunda Allah, konsep comunicatio idiomatum bisa dikenakan karena gelar ini mengungkapkan kesatuan riil antara kemanusiaan Yesus (melawan Gnosis) sekaligus Ketuhanan Yesus (melawan Yudaisme).
• Karena Yesus adalah Allah sejak sebelum menjadi manusia dan saat berada dalam rahim Maria dia menerima kodrat insaniNya dan tetap Allah – maka Maria adalah Bunda Allah. Tugas Maria tidak dipersempit dalam fungsi fisiologis belaka
• KGK 509 : Maria sesungguhnya adalah “Bunda Allah” karena ia adalah bunda Putera Allah abadi yang menjadi manusia, yang sendiri adalah Allah. Gelar “Bunda Allah” menunjuk pada kebenaran luhur mengenai inkarnasi, bahwa Yesus Kristus adalah sungguh Allah – sungguh Manusia
• Kalau Nuh, Abraham, Musa, Samuel, Daud, dan banyak lainnya dipilih Allah karena kesalehan mereka – tidakkah menggelikan jika Allah memilih ibu-Nya secara serampangan? Kerap karena asal berbeda dengan Katolik, sejumlah orang menjadi tidak percaya Sabda Allah melalui Gabriel bahwa Maria “penuh rahmat” dan beroleh anugerah di hadapan Allah” (Luk 1:28.30)
•
B. DASAR BIBLIS ?• KS tidak menggunakan ungkapan Bunda Allah (Yesus pun tidak serta merta disebut Allah! Skandal dalam monoteisme yahudi!), namun Maria jelas disebut sebagai ibu Yesus (bdk. Mat 2:13, Luk 1:31; 2:34; Kis 1:14) dan ibu Putera Allah (bdk. Luk 1:35; Gal 4:4)
• Pertama secara harafiah bisa diambil dari kata-kata Elisabeth saat Maria mengunjunginya :”Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? (Luk 1:43 – bdk. KGK 495)
• Secara Tipologis bahwa Maria adalah Bunda Allah, yang mengandung Allah diungkapkan dengan gambaran / gelar Maria sebagai Tabut Perjanjian (Baru). Lihat uraian Tipologis Maria sebagai Tabut Perjanjian.
• Dari ajaran biblis bisa disimpulkan :
a. Maria adalah ibu Yesus;
b. Yesus adalah sungguh Allah = Maria adalah Bunda Allah.
• Jika kesimpulan kita tidak demikian (Maria = Bunda Allah) maka berarti kita menyangkal salah satu atau kedua premis dasar tersebut.

C. MAKNA KEIBUAN
• Keibuan adalah relasi yang terbangun ketika seorang wanita mengkomunikasikan kodrat kemanusiaannya sendiri kepada anak-anaknya. Pemberian kodrat itu terjadi sejak saat pembuahan dan terus dipelihara selama masa kehamilan, kelahiran dan kehidupan sang anak.
• Relasi yang terjadi bukan sekedar pembentukan fisik belaka melainkan juga dengan segala aspek psikologis dan spiritualnya yang sangat dalam.
• Meski demikian mengagumkan relasi ini, tetaplah tidak berarti sang ibu adalah pencipta jiwa anak, melainkan Allah sendiri.
• Demikian pula Maria, ia tidak memberikan jiwa dan kepribadian ilahi terhadap Yesus dari rahimnya karena Ia telah ada sejak kekal (bdk KGK 471)
• Sebagai ibu sejati, Maria sungguh memberikan kepada Yesus kodrat insani yang sama dengan kodrat manusiawi Maria sendiri. Lengkap dengan segala aspek manusiawinya.
• Kodrat Ilahi Yesus sejak semula dalam rahim Maria melebur dalam kodrat insaniNya sehingga Maria bukan sekedar ibu dari suatu tubuh atau kodrat saja melainkan keduanya secara utuh.

D. AJARAN PARA BAPA GEREJA
• Dalam Liturgi :
– Syahadat tertua (para rasul) :”aku percaya akanYesus Kristus Putra-Nya yang tunggal, yang dikandung dari RK, dilahirkan oleh Perawan Maria..”
– Doa kuno kepada Maria sub tuum praesidium (padamu, kami berlindung..) dari abad ketiga telah menyebut Maria sebagai Bunda Allah
• Ireneus (202) : “Perawan Maria… karena ketaatan akan sabdaNya, menerima seorang malaikat, kabar gembira bahwa ia akan melahirkan Allah”
• Alexander dari Alexandria (325) juga menyebut Maria Bunda Allah
• St. Efraim dari Syria (373) dalam hymne tentang kelahiran dengan jelas menyebut Maria sebagai bunda Allah
• St. Athanasius (373) dalam risalah tentang Inkarnasi Sabda Allah dan menentang bidaah Arianisme juga menegaskan bahwa Maria Bunda Allah.
• Hingga puncaknya pada Konsili Efesus 431 secara definitif menetapkan dogma Maria Bunda Allah yang oleh gereja barat diperingati sebagai Hari raya setiap 1 Januari. Ditetapkannya dogma ini menimbulkan sukacita bagi seluruh umat hingga perayaan di jalan-jalan hingga para Bapa Konsili diarak saat perjalanan pulang.
• Dogma ini dipicu oleh ajaran Nestorianisme (Nestorius dari Antiokhia VS Cyrillus dari Alexandria) : ada dua pribadi Yesus satu ilahi – satu insani; dan Maria hanya melahirkan pribadi manusiawi (anthropotokos). Maria bisa disebut sebagai ibu Kristus (Christotokos) atau hanya penerima / penampung Allah (Theodokos) bukan Theotokos!!! (Mirip ya!)
• Sampai saat ini devosi kepada Theotokos menjadi titik pemersatu diantara banyak umat kristiani yang terpecah, utama dengan Gereja-gereja timur (Bdk LG 69)
• Dan menarik bahwa ketiga Bapa Reformasi Protestant : Luther, Calvin dan Zwingli semuanya menegaskan keibuan ilahi Maria
• Martin Luther : dalam karya ini, yang dilaluinya ia menjadi Bunda Allah, begitu banyak hal istimewa diebrikan kepadanya sehingga tak seorang pun dapat memahaminya… Maria tidak hanya menjadi ibu dari Dia yang teralhir di Bethlehem, tetapi juga Dia yang, sebelum adanya dunia, secara kekal terlahir dari Bapa, dari seorang ibu dalam waktu dan pada saat yang sama adalah manusia dan Allah.
• Ulrich Zwingli : Apa yang tidak dimiliki oleh ciptaan lainnya diberikan kepadanya sehingga dalam daging, ia harus melahirkan Putera Allah
• John Calvin : Tidak dapat disangkal bahwa Allah, dalam memilih dan menetapkan Maria sebagai Bunda PuteraNya menganugerahkan kepadanya anugerah tertinggi…. Elisabeth menyebut Maria sebagai ibu Tuhan, karena kesatuan pribadi antara kedua kodrat Kristus sedemikian kokoh sehingga, dia bisa saja mengatakan bahwa manusia yang dikasihinya dalam rahim Maria, pada saat yang sama adalah Allah yang kekal.